aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 64 : Dinner

“Cepetan, Sayang, udah jam berapa ini. Lo emang ratu telat yaa. Begner kata Nessy.”

“Apaan daahhh … jangan ngadi-adi, tadi kamu yang lama di toilet.”

“Dandannya di mobil aja, Karaaaa ….”

“Iya, bawel. Sebentar.”

“Lo yang bawel kalau lo lupa.”

“Hishh … enak ajaaa!”

Adam dan Fara adalah pasangan absurd yang tidak terlalu terlihat sisi romantisnya. Mereka berdua lebih sering menghabiskan waktu dengan saling berargumen dan tidak ada satupun yang mau mengalah, khususnya Fara.

Apalagi dia selalu menggunakan senjata pura-pura menangis yang membuat Adam akhirnya harus mengalah.

“Nggak usah genit lo ya sama si bodoh itu.”

“Apaan sih. Ngaco.”

“Gue tahu kalau lo suka sama si bodoh itu sejak dulu.”

“Ngarang.”

“Ngaku aja napa.”

Fara melengos dan memperhatikan jalanan di sebelah kirinya.

Langit sudah mulai berubah warna, sebentar lagi semuanya akan gelap dan berganti dengan sinar terang lampu yang berjejer di sepanjang jalan raya.

“Kenapa sih lo pakai bilang iya aja buat jemput si bodoh itu ke Bandara?”

“Kamu kenapa sih emosi terus? Manggil kakaknya juga pakai sebut nama kek. Ini malah nggak genah banget. Tak patut. Dosa segede gunung.”

“Blah, blah, blah ….” Adam memanyunkan bibirnya seolah menegaskan bahwa dia pasti akan kalah lagi jika mulai berdebat dengan dari istri bawelnya.

Perjalanan menuju Bandara tidak memakan waktu lama karena di depan maupun belakang mobil berwarna hitam milik Adam, tidak terlalu banyak kendaraan yang juga memakai jalan.

Tangan Fara meraih pouch make up dan merapikan tatanan rambut sebahu lurus serta poninya.
Sementara itu Adam yang melihat istrinya malah merasa kesal. Dia tidak akan rela jika Fara-nya terlalu berlebihan pada kakaknya.

Saat keluar dari mobil yang telah berhenti nyaman di parkiran, dengan sengaja Adam mengacak-acak rambut Fara lalu tanpa berdosa berjalan meninggalkan perempuan itu di belakangnya.

Tidak mau kalah, Fara mengejar suaminya dan mencubit daging di pinggang Adam dengan gemas.

“Ouch … sakit, Kara. Lo sukanya cubit-cubit, nggigit. Hadehh … kalau di balas aja, nangis.”

“Biarin. Yeekkk!”

Kali ini giliran Fara yang berlari kecil dan meninggalkan suaminya di belakang.
Adam mengejar dan merangkul pundak Fara serta mencubit pipi sang istri dengan tangan kanannya.

Pesawat yang Rion tumpangi sudah landing, dia hanya sedang menunggu kopernya dan bisa segera pulang bersama kedua adiknya.

Fara begitu antusias saat melihat Rion menggeret koper berwana biru berukuran besar. Sepertinya Rion membawa pulang banyak oleh-oleh.

Ya, oleh-oleh baju kotor untuk Mbok Nah mungkin.

“Ngerepotin aja lo,” umpat Adam saat Fara memintanya untuk mendorong koper sang kakak.

Rion hanya tertawa kecil. Kapan lagi dia akan membully adiknya sendiri mumpung ada Fara, sekutunya.

“Lo duduk di belakang aja. Gue mau sebelahan sama istri gue.”

“Aku mau duduk di belakang.”

“Sejak kapan lo yang ambil keputusan?” ucap Adam sewot. Dia hanya tidak ingin Fara berpaling darinya.

Rion dan Fara asyik mengobrol, hal itu membuat Adam merasa gemas. Seharusnya dia tidak pernah setuju untuk menjadi supir kakaknya kali ini.

Pria itu sengaja mengeraskan suara musik di dalam mobilnya karena enggan mendengarkan celotehan Fara dan kakak kandungnya.

“Dear, kecilin isshh … nggak sopan banget kamu ya.”

“Apaan, ini lagunya enak tahu. Biasanya juga lo suka.”

“Iya tapi kan nggak sekarang.”

“Kalau gue mau sekarang gimana?”

Fara mencebik kesal. Kedua bola matanya naik ke atas, sangat mirip dengan salah satu emoticon di instant messaging berwarna hijau.

Rion menggelengkan kepalanya sambil tertawa tertahan.
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika punya istri seperti Fara. Mungkin dia tidak akan sesabar Adam dalam menghadapi istrinya.

Tapi tidak tahu juga, karena cinta terkadang memang tak ada logika.
Cinta juga sering kali membuat seseorang menjadi berbuat sesuatu yang tidak terduga dan dapat berbuat atau berubah menjadi sesuatu yang berbeda demi sebuah cinta itu sendiri.

Akan lebih baik jika cinta merubah seseorang menjadi terbaik versinya. Namun, sialnya banyak juga karena cinta, seseorang malah mengeluarkan sisi buas yang terpendam dalam dirinya.

Bagi Rion, cinta masih sebuah rahasia untuknya. Bahkan kepedulian terhadap keluarga dan adik satu-satunya juga merupakan sebuah cinta.

Di rumah, Mbok Nah sudah memasak berbagai makanan yang enak.
Adam dan Rion sangat lahap menghabiskan makanan kesukaan mereka.

Ada Anita juga pada makan malam bersama kali ini. Wanita itu memang tinggal di rumah orang tua Adam karena Sherly mengaku masih saudara jauh dengan Anita, sehingga dia diperbolehkan untuk tinggal.

Tentu saja karena ini ada campur tangan Om Suryo juga.
Pria paruh baya itu benar-benar tidak terduga.

Meski tahu kebenaran tentang siapa Anita dan bagaimana hubungan sebenarnya dengan kakak iparnya, Om Suryo dengan sengaja masuk ke dalam drama yang Sherly ciptakan.

Apalagi kalau tidak memanfaatkan kesempatan untuk menaklukan Sherly dan memegang kartu serta rahasia yang bisa saja membuatnya terdepak dari keluarga Yudhistira tanpa mendapatkan sepeserpun harta.

Fara membantu Mbok Nah membereskan meja makan dan mencuci piring yang kotor meski sudah dicegah.

Papa Alfred pamit untuk masuk ke kamar sesaat setelah makan malam. Ia merasa agak pusing dan kepalanya sangat berat sekali.

Saat melihat kedua putranya berkumpul bersama, perasaan bersalah itu semakin besar. Jika bukan karena kelalaiannya, pasti semuanya akan berbeda.
Bahkan untuk berbicara pada Adam saja ia urungkan.

‘Mungkin lebih baik aku beri tahu Fara saja,’ bisiknya dalam hati sebelum meminum obat yang Sherly berikan.

Adam dan Fara tidak menginap meski sudah lama sekali sejak terakhir kali adik Rion itu tidur di kamar masa kecilnya.

Adam hanya menjaga perasaan Fara.
Dia tidak ingin egois karena kemarin malam saat istrinya terlihat ingin sekali menginap di rumah mamanya, Adam malah mengajaknya pulang.

Tentu akan sangat egois jika saat ini mereka malah menginap di rumah orang Adam.

“Bangun, Karaa. Udah sampai.” Adam membelai rambut istrinya lembut.

Fara memang sering tertidur saat perjalanan. Padahal jarak rumah orang tua Adam dan apartemen suaminya juga tidak terlalu jauh.
Anak Larasati itu bahkan dijuluki sebagai koala.

“Gendong …” ucap Fara dengan nada yang sengaja dibuat-buat seolah dia tidak punya tenaga.

“Manjaaaa.”

“Aaaa … gendong, ngantuk banget, zzzZ.”

“Hadehhh.”

Fara cekikikan melihat suaminya keluar dari mobil dan menghampiri pintu sebelah kirinya.
Karena sudah larut malam, mereka tidak mendapatkan tempat parkir seperti biasanya di basement.
Jadi Adam memarkirkan mobilnya di area parkir mobil tamu yang tidak jauh dari lobby utama.
Ini berarti mereka akan melewati lobby untuk menuju lift dan naik ke unit apartemen mereka.

Karena rasa cinta, Adam benar-benar menggendong Fara di punggungnya.
Ini adalah salah satu adegan dalam drama Korea yang sangat Fara inginkan terjadi di dalam dunia nyata dan ternyata sang suami telah mewujudkannya.
Tidak dipungkiri, pengaruh drakor membuat Fara sedikit lebay. Untungnya Adam sangat pengertian dan mau-mau saja menuruti keinginan istrinya.

Petugas dan Satpam yang sedang berjaga di lobby tertawa kecil melihat tingkah Adam dan Fara yang seperti anak kecil saja.

“Malam, Pak, Bu,” sapa salah satu satpam ramah.

“Malam,” balas Adam sambil tersenyum.

Fara tersenyum pada satpam dan petugas lainnya sebelum menenggelamkan lagi kepalanya pada punggung bidang sang suami.

Sampai di dalam rumah, Adam sengaja melempar Fara ke atas sofa karena merasa istrinya terlalu berat sekarang.
Tiba-tiba Adam tersenyum aneh dan tatapannya mencurigakan. Fara yang menyadari dia dalam bahaya langsung berlari ke kamar.
Dengan sigap, Adam mengejar istrinya ke dalam dan tidak lupa mengunci pintu serta menutup rapat korden jendela kaca tempat tidur mereka.

“Hwaaa …. Sayang, pelan-pelan …!”

“Lo sukanya jerit-jerit.”

“Abisnya kamu ….”

“Apa?”

“Kamu tuhhmmmhhh … Adam!”