aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 66 : See You Again

“Sayang, mampir ke rumah Mama bentar ya?”

“Mau ngapain?”

“Entahlah … aku pengen peluk Mama sama Papa.”

“Dasar manjaaa.”

“Kemarin aku mimpi aneh banget.”

“Awas kalau lo mimpiin cowok selain gue!”

“Hiisshhh … apa daahh.”

“Emang mimpi apa?”

“Nggak tahu ya, aneh aja sih, masa aku mimpi kita nikah lagi?”

“Hahaha. Kita bisa lakuin itu kalau lo mau.”

“Tapi, Sayang, aku pernah denger cerita gitu kalau kita mimpi nikah artinya umur kita udah nggak lama lagi. Bener nggak sih?”

“Itu cuma mitos aja. Nggak usah percaya hal kayak gitu. Percaya tuh sama gue dan Tuhan aja.”

“Kamu kan tukang bohong.”

“Mana ada gue bohong? Yang ada lo tuh nggak jujur sama gue.”

“Emang aku nggak jujur apa?”

“Kemarin lunch sama siapa?”

“Hihihi … um, aku nggak mau kasih tahu.”

“Tuh kan … lo mah curang.”

“Sayang, Tante Grace kok nggak pulang-pulang sih?”

“Katanya satu minggu lagi.”

Sesuai permintaan Fara, mereka berdua mampir ke rumah Richard dan Larasati sebelum berangkat ke villa.
Fara bergelanyut sangat manja pada ibu kandungnya. Meski sebenarnya dia merasa tidak terlalu leluasa karena berpisah sangat lama.
Bu Lisa adalah ibu yang selama ini membesarkan Fara meski tidak pernah melahirkannya.

Tadi malam, Fara melakukan video call pada ibu asuhnya itu. Entah ada angin apa, tiba-tiba Fara meminta maaf dan berterima kasih pada Bu Lisa dan Pak Yusuf karena telah merawatnya selama ini. Pada adik angkatnya, Fara juga berterimakasih dan meminta maaf karena sering membuatnya menangis saat kecil dulu.

“Hati-hati ya. Jangan ngebut ya, Dam, bawa mobilnya.”

“Iya, Ma, Pa.”

“Good bye, Ma, Pa, see you again,” ucap Fara sambil tersenyum sangat manis. Dia benar-benar mewarisi kecantikan mamanya.

Perjalanan menuju villa memakan waktu sekitar dua jam. Mereka berdua mampir ke sebuah super market untuk belanja bahan makanan selama di villa nanti.
Adam sudah berjanji akan masak untuk istrinya.

Saat sedang memilih buah, Fara merasa ada seseorang yang mengikutinya.
Karena merasa tidak nyaman, dia memandangi sekeliling dan melihat sekelebatan seorang pria yang memakai topi dan masker mencoba menghindar ketika tatapan mereka bertemu.

“Lo kenapa?” tanya Adam heran.

“Sayang, aku kok ngerasa kayak ada yang ngikutin kita ya?”

“Itu perasaan lo aja kali? Ini kan supermarket, cintaa … banyak orang belanja dan nggak mungkin mereka ngenalin kita. Toh ini udah bukan area tempat tinggal kita lagi. Lo udah ambil parsley?”

“Udah. Lettuce juga. Cabai yang belum.”

“Okay, tuan putri.”

Fara masih merasa jika ada yang mengikuti mereka.
Mungkin itu semua adalah perasaannya saja yang terlalu berlebihan.
Tapi Fara harus tetap hati-hati karena Andrew juga sudah memberitahunya jika Om Suryo tahu mereka telah mengambil kembali apa yang menjadi milik Richard Grup, Adam pasti akan berada dalam bahaya.

“Lo kenapa sih, Kara? Makan yang bener donk.”

“Iya, bawel.”

“Lo tuh yang bawel.”

“Ya udah aku nggak mau bawel lagi.”

“Eh, jangan donk. Nanti gue kangen kalau lo nggak bawel.”

Sekitar jam setengah sepuluh malam, Adam dan Fara samapi juga di sebuah villa yang cukup jauh dari keramaian. Bahkan Adam sempat nyasar ke persawahan karena jalanan yang mereka lalui sangat gelap dan minim pencahayaan.
Untungnya penjaga villa dapat dihubungi dan memberitahu rute jalan yang sebenarnya.

Villa itu sangat luas dan asri. Hampir mirip dengan villa yang pernah Adam gunakan untuk menyekap istrinya dulu.
Di bagian belakang ada kolam renang yang luas dan halaman dengan rumput hijau serta pepohonan yang di rawat sangat baik oleh penjaganya.
Ada ayunan dan gazebo jua disana.

Karena kelelahan, setelah memasukkan beberapa bahan makanan ke dalam kulkas dan merapikan baju, mereka langsung beranjak ke kamar.
Seperti malam-malam sebelumnya, mereka selalu menyempatkan sesi cuddle sebelum akhirnya terlelap bersama.

Benar kata Adel, Nessy dan juga Rima. Tempat ini sangat cocok untuk making baby karena suasananya.
Tengah malam entah jam berapa, Adam membangunkan istrinya pelan.
Karena sudah curiga ada apa-apa, Fara terus pura-pura tidur meski sebenarnya dia sedikit mengintip.

“Sayang, bangun ihh … dasar koala.”

“Um, zzz’ apa ….”

“Bangun ….”

“Aaaaaaa ….”

“Happy birthdate! Gue nggak lupa kan sama ulang tahun lo.”

Fara tersenyum simpul. Seperti biasa, pipinya berubah semerah tomat saat sedang dalam suasana seperti ini.

“Iya, iya … tapi nggak usah jam segini juga kali … kita kan butuh tidur.”

“Gue nggak bisa tidur.”

“Kenapa?”

“Gue baca chat lo sama Adel, Nessy dan Rima, btw.”

“Hahh, apaan!?”

“Yuk bikin baby? Oma kita juga nungguin kan?”

“Sayang, aku ngantuk!”

Fara menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Tapi tentu saja Adam punya cara lain. Dia menarik selimut itu dan menutupi tubuh mereka berdua.

“Adam, aarrrhh! Kamu ya!”

“Oucchh … Kara, lo hobi banget gigit-gigit.”

“Biarin! Hwaa … Adam!”


“Mbak Anita kenapa? Sakit?” tanya Mbok Nah ramah saat melihat wajah pucat Anita.

“Nggak.” Anita menjawab dengan ketus dan langsung pergi.

Wanita itu memang akhir-akhir ini sedikit aneh. Dia sering pergi ke halaman belakang untuk merokok dan berulang kali menjerit seperti orang yang sedang punya banyak masalah dan ketakutan.

Bahkan Mbok Nah pernah memergoki Anita membanting ponselnya setelah menerima panggilan.
Beberapa kali wanita itu mengadukan ini pada Sherly, namun dia hanya menganggap hal itu biasa.
Apalagi Sherly tidak ingin siapapun tahu jika Anita adalah putri kandungnya. Termasuk Mbok Nah yang bisa saja membuka mulut.

*uhuk, uhukk ….

Di kamarnya, Rion terus terbatuk dan menahan sakit yang selama ini dia simpan sendiri.
Pria itu tidak tahu apa yang terjadi padanya. Meskipun sudah beberapa kali mengunjungi dokter, tapi penyebab sakitnya tidak dapat terdeteksi.

“Rion, Mama kan udah bilang, jangan telat minum vitaminnya ya, Nak,” ucap Sherly lembut.

“I-iya, Ma.”

“Anak pintar. Minum vitamin dan istirahatlah.”

“Iya, Ma. Thanks.”

Sherly menyunggingkan senyum terbaiknya. Selama ini selain memberi obat khusus untuk suaminya, tidak lupa dia juga memberikan obat serupa untuk Rion.
Hanya Adam yang tidak pernah berhasil dia beri racun itu karena sejak kecil Adam adalah anak nakal yang tidak pernah menurut padanya.
Sementara Rion memang sejak awal berhasil dia kuasai.

*Cekriiiiiiiieeett ….

Setelah memastikan Sherly telah menjauh dari kamarnya, Rion buru-buru membuang pil itu ke dalam kloset toilet.
Saat tinggal sementara di luar negeri beberapa waktu lalu, Rion juga sekaligus berobat disana.
Dokter menyarankan Rion untuk berhenti mengkonsumsi obat yang selama ini Sherly berikan sebagai vitamin.

Rion sangat kaget karena dokter menjelaskan jika apa yang selama ini dia minum bukanlah sebuah vitamin, tapi obat terlarang yang sangat keras dosisnya.
Jika Rion terus mengkonsumsi itu, maka nyawanya bisa terancam.

Diam-diam Rion juga sudah memberitahu ayahnya untuk tidak lagi meminum apapun obat yang diberikan oleh Sherly dan ayahnya menurut.
Malam itu Sherly sedang pergi bersama Anita.
Rion dan ayahnya terlibat dalam pembicaraan yang cukup serius.
Meskipun awalnya Alfred tidak ingin mengatakan ini, tapi akhirnya dia membuka semuanya.

Dari kematian ayahnya yang ganjil hingga kecelakaan yang Anggun alami, Alfred mencurigai semua dalangnya adalah Suryo.
Dia juga mengaku terpaksa memperlakukan Adam sedemikian rupa agar anak itu bisa hidup bebas sesuai pilihannya. Apalagi dalam kecelakaan itu, Adam berhasil selamat yang tentu saja membahayakan dirinya sendiri. Beberapa kali Suryo mencoba mencelakai kedua anaknya karena dendam pada dirinya yang menikahi Anggun.

Itulah kenapa Alfred selalu pura-pura tidak suka pada Adam agar anak itu selamat. Tapi nyatanya semua itu salah. Justru Suryo memanfaatkan semuanya termasuk menguasai Adam untuk ambisinya.

Sementara untuk Rion, Alfred memang menyiapkan anaknya untuk mengalahkan Suryo dan memegang penuh Golden Corp meski pada akhirnya tetap Suryo lah yang berkuasa.

“Kenapa Papa nggak pernah bilang semua ini sama si bodoh itu, Pa?”

“Papa terlalu lemah untuk melakukan itu. Papa malu karena telah membuat Adam menderita sejak lama.”

“Adam nggak salah, Pa. Kasihan dia selama ini selalu kesepian. Kenapa Papa tega lakuin itu?”

“Justru ini untuk kebaikan anak nakal itu.”

Tiba-tiba pikiran Rion kemana-mana. Dia khawatir Om Suryo akan melakukan sesuatu pada adiknya karena cepat atau lambat, Om Suryo pasti akan tahu jika Adam tidak pernah menarik semua saham dan aset milik Richard Grup menjadi kuasa Golden Corp karena Adam tidak mungkin mengkhianati Fara.


[Berapa lama lagi aku harus bertahan dengan si tua itu? Sudah tidak sabar rasanya ingin menghabisinya dan bersatu denganmu]

*ting … Sherly mengirimkan satu pesan pada seseorang yang ia beri nama Mr. X.

[Dia akan mati perlahan dengan obat rutin yang kau berikan. Bagaimana dengan si sulung?]

[Tenang, tadi kulihat dia batuk hebat. Mungkin akan lebih dulu mati daripada ayahnya]

[Bagus]

[Bagaimana dengan anak nakal itu?]

[Bukan urusanmu. Dia akan segera bertemu dengan ibunya dengan cara yang sama]

[Maksudmu? Kau merusak mobilnya seperti yang kita lakukan dulu?]

[Tenanglah, kau akan segera tahu]

[Habisi juga istrinya. Aku sangat membencinya]