aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 67 : 26th

Fara membantu suaminya menyiapkan masakan untuk makan malam nanti.
Pria itu sudah berjannji akan masak masakan yang lezat untuk sang istri pada ulang tahun ke 26 Fara kali ini.

Mereka berdua terlihat sangat bahagia. Apalagi Fara sudah tahu jika Adam tidak pernah sejahat yang dia kira.
Saat ini mereka harus bisa lepas dari Om Suryo dan hidup normal seperti orang kebanyakan.

“Sayang, lo suka nggak rumah kayak gini?”

“Terlalu besar sih ini.”

“Emang kenapa? Kan enak kalau luas gini. Lo bisa undang temen-temen lo buat nginep juga.”

“Aku sukanya rumah sederhana dan minimalis aja. Nggak susah beresinnya.”

“Banyak alasan lo.”

Adam dan Fara sengaja mematikan ponsel mereka. Apalagi di villa ini sangat susah mendapatkan signal karena lokasinya yang memang cukup jauh dari keramaian.
Beberapa kali Rion mencoba menghubungi adik-adiknya, tapi Adam maupun Fara tidak ada yang menjawab panggilan maupun pesan yang dia kirimkan.
Meski Andrew sudah memberitahu Rion jika adiknya sedang menginap di villa, tapi laki-laki itu tetap merasa khawatir pada keselamatan mereka.

Pasangan suami istri ini menikmati makan malam mereka di pinggir kolam renang.
Suasana lebih romantis dengan lilin yang yang dinyalakan di tengah meja. Malam ini langit sangat cerah dengan hiasan kerlap kerlip bintang yang Adam bilang bahwa itu Mama Anggun yang bersinar terang.

“Fara, gue ….”

“Sayang, aku mau ngomong sesuatu ….”

Mereka berdua hampir bersamaan saat akan mengungkapkan sesuatu.
Bahkan keduanya saling meminta untuk lawan bicaranya mengatakan sesuatu terlebih dahulu.
Akhirnya Fara yang akan bicara pertama.

Adam merasa sangat gugup kali ini. Dia sudah bersiap jika Fara akan memberitahunya kalau Fara hamil atau semacamnya.
Haha.

“Sayang, aku minta maaf. Kemarin itu sebenarnya aku bertemu sama Kak Andrew dan Kak Rion.”

“Ah, itu, gue tahu.”

“Isshh … kamu tahu?”

“Hu’um.”

“Yah ngapain aku ngomong ini ya kalau kamu udah tahu?”

Fara memanyunkan bibirnya sebal.

“Ya udah cerita aja, gue kan nggak tahu lo ngapain aja.”

“Sayang, aku bener-bener minta maaf harus melakukan itu. Sebenarnya aku udah ambil berkas milik Papaku yang ada sama kamu.”

“Dimana lo nemuin berkas itu?” tanya Adam kaget tapi masih bisa mengontrol dirinya.

“Di tumpukan berkas lainnya. Aku minta maaf tapi aku harus melakukan itu.”

“Seharusnya gue yang minta maaf karena udah bikin kekacauan ini.”

“Enggak, kamu nggak salah, Sayang. Aku udah tahu semuanya dari Kak Rion.”

“Jangan mudah percaya sama si bodoh itu.”

“Hish … kamu aja yang suka negative thinking padahal sama Kakak sendiri.”

“Lo nggak tahu aja sebenarnya dia gimana.”

“Salah. Justru kamu yang nggak tahu apa aja yang udah Kak Rion lakuin buat kamu.”

“Iya deh iya, lo pasti akan ngebela dia terus gue tahu.”

“Ish, ish, ish, mrajokkk yaaa?” goda Fara dengan tawa yang mengejek.

“Gue minta maaf udah bikin lo nggak nyaman sejak kita menikah. Gue janji akan jadi suami terbaik buat lo.”

“Aku juga minta maaf karena udah salah faham dan bikin kamu sedih.”

Setelah makan malam, mereka berdua menuju ke taman belakang dan duduk di ayunan berdua. Fara berada di pangkuan suaminya.
Mereka juga menggelar tikar diatas rerumputan yang digunting rapi, bersih dan sangat asri.
Pasangan ini menghabiskan malam yang panjang sambil menghitung bintang.
Adam merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri.

Dia sangat bersyukur bisa bersama dengan Fara dan berharap ini akan selamanya tanpa ada yang mengganggu.
Adam sudah bertekad untuk segera keluar dari Golden Corp dan memulai hidup baru. Dia tidak ingin lagi hidup dalam aturan Om Suryo apalagi untuk menghancurkan Richard Grup yang merupakan perusahaan mertuanya sendiri.

Sepulang dari villa besok, Adam akan menemui pamannya dan mengakhiri semua.
Setelah mendengar banyak cerita dari Fara tentang pengorbanan Rion selama ini, Adam mulai menyadari bahwa Rion tidak seburuk yang dia kira.

“Menurut kamu apa Om Suryo akan setuju?”

“Seharusnya sih setuju aja. Lagipula gue juga kan punya hak untuk memilih jalan hidup gue sendiri.”

“Tapi aku merasa khawatir aja kalau Om Suryo akan berbuat sesuatu ke kamu, Sayang.”

“Lo tenang aja. Om Suryo nggak mungkin nyelakain gue.”

Hingga hampir pagi mereka baru masuk ke dalam villa.
Kalau saja tidak ada kodok yang loncat ke arah Fara, mereka akn masih berada di luar sana.
Keduanya tertawa bersama karena sudah diganggu oleh hewan melompat itu.

Di kamar, Adam mendekati Fara dan memeluk istinya erat.
Tangan kanannya mengusap rambut Fara dengan lembut sebelum akhirnya mengacak-acaknya seperti biasa.
Karena sebal, Fara membalasnya dengan mencubit pinggang sang suami sampai Adam merasa kesakitan.

Khawatir Adam membalasnya, Fara segera berlari keliling kamar menghindar.
Mereka berdua kejar-kejaran sampai akhirnya anak Larasati itu tertangkap dan menyerah.
Adam mencium kening istrinya dengan mesra. Mereka berdua menghabiskan malam yang sudah menjelang pagi ini dengan penuh cinta.


[Bagaimana? Apa mereka masih di villa?]

[Masih, Om. Semalam mereka menghabiskan waktu sepanjang malam di taman belakang dan baru masuk ke dalam saat menjelang pagi. Sepertinya malam ini mereka akan bersiap pulang]

[Bagus. Jangan sampai gagal. Pastikan anak itu pergi menemui ibunya]

[Beres, Om. Dendam ini juga akan terbayar tuntas dan lunas]

Di kediaman Richard, Larasati merasa sesuatu yang tidak biasa. Entah kenapa dia gelisah dan khawatir akan terjadi apa-apa.
Oma Rossa berulang kali menenangkan anaknya dan meminta Laras untuk tidak memikirkan sesuatu yang malah akan membuatnya semakin tidak nyaman.

Adam dan Fara pamit pada penjaga villa dan berterimakasih sebelum mereka meninggalkan area villa karena hari sudah semakin sore.
Saat menjauh dari area villa, ponsel Adam baru bisa di hubungi oleh kakaknya.
Beberapa kali Rion mengingatkan adiknya untuk berhati-hati karena Om Suryo sudah mengetahui jika Adam tidak melakukan perintahnya.

Tidak ingin Fara khawatir. Adam pura-pura tidak terjadi apa-apa.
Dia hanya tidak ingin momen bahagia bersama istrinya akan rusak karena sesuatu yang memang dia sendiri terlibat di dalamnya sejak awal.

Langit mulai menghitam dan butiran bening berjatuhan dari langit. Semakin besar dan besar hujan turun ke bumi.
Sialnya Adam lagi-lagi nyasar. Dia salah mengambil arah saat di belokan tadi. Tapi karena bersama sang istri tercinta, mereka akhirnya bisa menemukan jalan yang benar dan sudah mendekati jalan raya.

“Adam, i love you. I trully love you. Janji ya jangan nyebelin lagi,” ucap Fara tiba-tiba.

“Tumben bilang love you. Biasanya juga gue yang selalu memulai.”

“Haish, kamu mah gitu. Mana ada sisi romantisnya. Oh ya, Tante Grace sama Oma Stefanie minta kita ke rumah. Kangen katanya.”

“Emang Tante Grace udah pulang ya?”

“Besok sih katanya. Kan lagi dijemput Om Suryo dari sana.”

“Well, kayanya gue akan tetep jadi bos galak dan nyebelin buat lo selamanya.”

“Lah, kok gitu? Dasar bogabel!”

Mereka tertawa bersama dan terlihat sangat bahagia.

*Srreeettttttt … brrraaaagggghhhhhhhhh … wuingg … bruugghh ….


Pecahan kaca mobil bercecer di jalan yang cukup sempit sebelum mencapai jalan raya kota.
Sebuah mobil berwarna hitam terbalik dari posisi seharusnya.
Bercak darah menempel di beberapa serpihan kaca yang ada diatas aspal hitam.

Seorang pria dengan darah mengalir dari bagian depan kepalanya berusaha keluar dari mobil yang ditumpanginya.
Dengan susah payah, dia mengeluarkan diri. Tangan kanannya berusaha menahan bahu kiri yang seperti remuk.
Setelah berhasil keluar dari kendaraan roda empat yang telah ringsek itu, dia mendengar suara kesakitan dari kejauhan.

Seorang wanita muda yang sangat ia kenal sedang kesakitan di ujung saja.
Dia terlempar jauh, sangat jauh dari lokasi mobil mereka yang telah rusak total.

“Fara!!!!” teriak Adam histeris. Dia berlari dengan sisa kekuatan yang masih ada dalam dirinya.

“Arghh … A-a-adam ….”

“No, Fara … noooo …don’t leave me alone! Please, bertahanlah, gue mohon, Kara. Jangan tinggalin gue!”

“A-daam ….”

Fara mengucap nama suaminya dengan terbata. Dia tergeletak tak berdaya. Darah mengalir dari kepalanya. Matanya sayup dan akan segera menutup. Di hadapannya, Adam menangis tanpa henti dengan berat, dia menuntun istrinya untuk mengucap syahadat sebelum akhirnya Fara menutup mata.

Untuk kedua kali dalam hidupnya, Adam harus kehilangan wanita yang dia cintai dengan cara seperti ini.

Di pemakaman, Larasati berkali-kali pingsan. Dia tidak pernah menyangka akan kehilangan putrinya secepat ini.
Adel, Nessy, Neni dan Rima juga tidak ada yang menyangka bahwa saat ini Fara Dikara telah tiada.
Rion dan Andrew menenangkan Adam yang sangat terpukul dengan kejadian ini.

Tidak ada yang menyangka jika Fara akan pergi secepat ini.
Oma Rossa dan Oma Stefanie juga tidak berhenti menangis melihat gundukan tanah yang ada di depan mereka.

Sherly dan Anita juga ada disana. Tapi tentu saja tidak ada wajah sedih nampak dari Sherly karena sejak awal dia sudah membenci istri dari anak tirinya.
Sementara Anita berulang kali menyeka matanya menggunakan selembar tisu yang ada di tangan kanannya.
Om Suryo sedang menjemput Tante Grace di luar negeri sejak satu minggu lalu sehingga mereka berdua tidak hadir di pemakaman kali ini.

“Kenapa Fara? Kenapa harus dia?”

Adam tidak bisa membendung air matanya yang terus terjatuh.
Kenyataan ini sangat menyakitkan untuknya. Dadanya terasa sesak, seakan ribuan pedang menusuk tubuhnya kali ini.
Dia merasakan sakit yang tidak satu orangpun dapat memahami.
Perih yang amat sangat menyakitkan lebih dari apapun.

Adam berjanji akan mencari orang dibalik semua ini.
Malam itu bukan sebuah kecelakaan biasa. Ada orang lain yang dengan sengaja menabrak mobilnya.
Adam tidak akan membiarkan orang itu lolos begitu saja.