aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 68 : Cursed

Jika ini sebuah kutukan untuk menantu dari keluarga Yudhistira dengan hidupnya berakhir seperti Anggun dan Fara, tapi kenapa sampai saat ini Sherly masih baik-baik saja? Bukankah dia juga sudah menjadi menantu dari keluarga Yudhistira?
Atau karena dia adalah Sherly sehingga memiliki nasib yang berbeda?

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

“Dear, bangun! Ya ampun, dasar koala. Toast agak gosong lo udah ada di meja tu.”

Pagi ini Adam bangun lebih pagi. Dia menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
Roti panggang yang hampir gosong adalah kesukaan Fara. Setiap pagi kopi sudah berganti dengan susu kedelai.
Pria itu meletakkan dua porsi sarapan ke meja lalu masuk ke kamar untuk menarik selimut dan menyeret istrinya untuk makan.

Di tepi ranjang yang rapi karena tidak ditiduri, air mata lelaki itu kembali mengalir dengan derasnya. Membanjiri pipi yang dulunya selalu terlihat angkuh dan sombong pada asisten pribadi yang kemudian berganti status menajdi istri.
Di luar, kopi dan susu kedelai sudah tidak lagi panas. Roti panggang itu juga telah mengeras karena tak tersentuh sama sekali.

Kehilangan seseorang yang sangat dicintai dalam hidup adalah momen terberat. Tidak ada satupun orang yang akan tahu bahkan memahami bagaimana sakitnya. Perih itu bahkan tidak bisa diungkapkan dengan deraian air mata yang tanpa henti keluar membahasahi pipi.

Kini mereka tidak hanya terpisah jarak dan waktu, tapi juga sekat yang sangat berbeda.
Beberapa kali Adam mencoba untuk mengakhiri hidupnya agar bisa segera berkumpul lagi bersama ibu dan istri tercintanya.
Namun, setiap kali dia mencoba melakukan itu, bayangan Fara selalu melarangnya.

Om Suryo dan Tante Grace yang baru saja pulang dari luar negeri sangat syok dengan kenyataan ini.
Khususnya Tante Grace yang sudah menganggap Fara sebagai anaknya sendiri.

Di apartementnya, Adam sudah seperti orang gila. Dia tidak mengijinkan siapapun masuk ke sana. Barang-barang Fara masih berada di tempat semula.

Karena mempunyai akses dan kunci ke unit itu, Om Suryo bisa masuk dengan leluasa.
Dia mendapati keponakannya tengah berdiri di depan jendela dengan tatapan kosong. Biasanya saat hujan tiba, Fara berada di dekatnya dan Adam akan memeluk sang istri dari belakang. Menikmati setiap tetes hujan yang turun dengan derasnya.

“Adam, wake up to your sense,” ucap Om Suryo membuyarkan suasana.

Adik Rion itu menoleh ke arah omnya dan langsung membuang muka.
Aura benci dan dendam telah menguasai dirinya.
Walau bagaimanapun, semua kecurigaan mengarah pada omnya sendiri.

“Kenapa Fara, Om? Kenapa bukan Adam aja?”

“Maksud kamu apa? Jangan gila. Om akan tinggal disini untuk sementara.”

Saat makan malam bersama, Om Suryo meminta keponakannya untuk kembali lagi ke Golden Corp.
Jika terus berada di rumah seperti ini, akan sulit untuk berdamai dengan keadaan.

“Golden Corp membutuhkanmu untuk tetap berdiri, Adam.”

“Sudahlah, Om. Adam nggak lagi butuh apa-apa.”

Siang itu Om Suryo masuk ke kamar tidur keponakannya. Dia melihat banyak sekali kertas berserakan di meja dan mengambilnya.

“Om ngapain disini?” tanya Adam curiga.

“Adam, sadarlah. Semua ini sudah kehendak Tuhan. Rela dan ikhlaskan Fara agar dia tenang disana.”

Tangan kanan Adam meraih kertas-kertas yang ada di genggaman omnya.

“Apa salah, Om, kalau Adam merindukan Fara? Salahkah kalau Adam menuliskannya? Apa salah jika Adam tidak bisa menerima semua kenyataan ini? Kenapa Tuhan selalu ambil orang yang Adam cinta? Dulu Mama, sekarang Fara. Kenapa dunia sebercanda ini?”

“Istighfar, Adam. Sadarlah. Semua ini sudah ada jalannya. Jangan pernah lupakan jika rejeki, jodoh dan mati itu sudah ada garisnya. Manusia hanya menjalankan porsinya.”

“Adam nggak bisa maafin orang yang udah membuat Fara pergi, Om.”

Seakan kembali pada malam nahas itu, Adam melihat Fara dengan senyum termanisnya.
Dia meminta Adam untuk melupakan semuanya dan merelakan apapun yang telah terjadi sebagai takdir Tuhan yang tiada seorang mausiapun mampu melawannya.

“No, Fara … No!!!”

Adam terbangun dari tidur singkatnya. Om Suryo berlari menghampiri sang keponakan karena mendengar teriakan.


Sherly merasa heran karena akhir-akhir ini Alfred malah semakin sehat. Padahal dia selalu rutin memberinya obat.
Rion juga sudah tidak dia dengar terbatuk lagi.
Sementara Anita, dia malah menjadi semakin aneh. Berulang kali dia berteriak dan seperti orang yang ketakutan.

“Pa, minum obatnya.”

“Stop, Ma. Berhentilah berpura-pura. Papa sudah lelah dengan semua ini. Silahkan kemasi semua barang Mama dan segera pergi dari sini.”

“Maksud Papa apa?”

“Kita sudah bukan suami istri lagi. Tanda tangani ini dan segera angkat kaki, pergi dan jangan kembali.”

“Nggak bisa kayak gini donk, Pa!”

“Pergi sekarang juga dan bawa anakmu serta,” ucap Grace sinis. Sejak dulu dia ingin mengatakan ini.

“Rion, kenapa kamu diem aja? Mama nggak salah, Rion!”

“Pergi sekarang, Ma, sebelum polisi datang.”

“Ka-kalian benar-benar keterlaluan!”

Tiba-tiba polisi sudah berada di rumah Alfred Yudhistira. Sherly ditangkap dengan tuduhan percobaan pembunuhan dengan meracuni suami dan juga anak tirinya selama ini. Sementara Anita ditangkap karena penggunaan obat-obatan terlarang.

“Ini nggak adil! Lepasin!” teriak Sherly berontak.

*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung ….
*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung ….

Ponsel Adam terus berbunyi, tapi sejak tadi dia tengah tenggelam dalam dunianya sendiri. Membuka ponsel Fara dan membaca semua chat antara mereka berdua yang tidak pernah di hapus sejak lama.

“Adam, gue mau ngomong sesuatu sama lo. Temui gue di gudang kosong dekat Golden Corp.”

“Mau ngomong apa lo?”

“Adam, please … lo harus tahu ini.”

*tut, tut, tut ….

Sambungan telepon itu terputus karena Josh mematikannya sebelum Adam sempat berkata apa-apa.

Tanpa pikir panjang, Adam langsung mengambil kunci mobilnya dan pergi menemui Josh.
Om Suryo yang mengetahui gerak-gerik mencurigakan keponakannya, segera menghubungi Rion dan yang lainnya.

Di gudang gelap dan kosong itu, Adam kesulitan menemukan keberadaan Josh.
Lagipula kenapa musuh bebuyutannya itu meminta untuk bertemu di tempat seperti ini segala.

*uhuk, uhukk ….

“Dam, gue disini.”

Terdengar suara berat dan tertahan dari arah belakang. Menggunakan senter dari ponselnya, Adam menemukan Josh yang telah babak belur tak berdaya.

“Ya Tuhan, Josh!? Lo kenapa?”

“Adam, gu-gue … gue minta maaf. Se-sebenarnya gue yang udah nabrak mobil lo waktu itu. Maafin gue, Dam. Uhuk … uhukk ….”

Adam melangkah mundur, tidak percaya dengan apa yang dia dengar baru saja.

“Tapi kenapa lo lakuin itu, Josh? Lo udah ngebunuh Fara asal lo tahu!”

“Ma-a-afin gue, Adam. Arrgghh … arrkkkhh ….”

Adam baru menyadari ada pisau tajam yang menancap di perut bagian kiri orang yang mengaku telah menabrak mobilnya beberapa waktu lalu.
Belum ada penjelasan lainnya, tapi Josh sudah tidak lagi bernafas.
Tangan Adam yang penuh darah dan dia satu-satunya orang yang berada di tempat itu membuatnya semakin tidak tahu harus berbuat apa.

“Pembunuh!”

“Lo akan membusuk di penjara.”

Dua suara itu datang dari arah yang tidak jauh dari keberadaan Adam.

“Om Wijaya, Ferry!?” ucap Adam terbata.

“Halo, anak nakal,” sapa Ferry sinis.

“Jadi kalian yang ada di balik semua kekacauan ini?”

“Kenapa, anak nakal? Kamu baru menyadarinya sekarang? Sungguh kasihan.” Om Wijaya tertawa dengan angkuh.

*Bhhuummmpphhh ….

Ferry melayangkan pukulan tepat di pipi kiri Adam hingga membuatnya tersungkur ke lantai.
Saat akan berontak dan membalas, Om Wijaya sudah memegang kayu dan memukul punggung anak dari sepupunya itu.

“Kenapa Om lakuin semua ini!?” teriak Adam histeris.

Bapak dan anak itu hanya tertawa melihat Adam seorang diri.
Rumor kematian Ferry di luar negeri adalah cara mereka untuk mengelabuhi semua orang.

Om Wijaya yang merupakan keponakan dari Oma Stefanie, sudah menaruh dendam sejak lama pada keluarga Yudhistira.
Kakak Oma Stefanie atau ibu dari Om Wijaya tidak sesukses adik kandung dan iparnya dalam mengembangkan bisnis. Hal itu membuat mereka jatuh miskin dan iri dengki pada apa yang Oma Stefanie dan Michael Yudhistira miliki.

Dendam dan iri itulah yang membuat mereka melakukan segala cara untuk menghancurkan keluarga Yudhsitira meski tidak pernah ada hasilnya.
Hingga Golden Corp ditangani oleh Alfred, Suryo, Rion dan Adam, perusahaan itu tetap kokoh tak tertandingi yang membuat Om Wijaya semakin murka.

Dari memasukkan Sherly untuk mengahancurkan Alfred hingga menyingkirkan Anggun supaya sepupunya tidak bisa berbuat apa-apa, nyatanya Golden Corp masih berdiri hingga kini. Mengadu domba dengan Richard Grup pun tidak berhasil menumbangkan perusahaan yang telah dibangun sejak lama.

Mengetahui semua ini, Adam sangat marah karena menjadi korban masalah keluarga yang tiada habisnya.
Dengan amarah yang telah memuncak, pria itu menghajar Om Wijaya dan Ferry dengan membabi buta.
Tapi tentu saja dua lawan satu membuat Adam terpojok. Ferry mengeluarkan pisau dari sakunya dan berkata pada Adam untuk segera berkumpul dengan istrinya.

“Polisi! Angkat tangan!”

Om Suryo, Rion dan lainnya datang bersama polisi untuk menyelamatkan Adam.
Karena terpojok, Om Wijaya meraih pisau dari tangan anaknya dan sengaja menusukkan benda tajam itu ke arah perutnya.

“Pa!” teriak Ferry panik.

Polisi lalu meringkus Ferry dan membawanya ke mobil. Luka yang begitu dalam membuat Om Wijaya tidak bisa tertolong.

Adam terduduk lesu. Dia tidak pernah menyangka semua ini berawal dari masalah keluarga.
Alfred merasa bersalah karena sudah mencurigai Om Suryo sebagai dalang dari semua ini.

Adam masih bertanya-tanya, kenapa mamanya dan Fara menjadi korban keserakahan manusia karena harta.

***

“Fara! Bangun lo. Gila aja malah molor ni bocah.”

“Kok gue masih hidup?”

“Makanya bangun. Kebanyakan tidur sih lo. Noh dari tadi dipanggil Pak Adam tau,” omel Adel dengan bibir manyunnya yang khas.

“Loh, kok gue disini?” tanyaku pada ketiga sahabat gesrek bin aneh di ruang kerja.

“Seharusnya lo udah ke ruangan Pak Adam sejak tadi.”

“Kok gue masih di ruangan ini? Bukannya gue udah jadi istrinya si bogabel?”

“Wuakakakka!! Ngimpi lo, Fara Dikara! Cuci muka sono. Lo dari tadi tidur.”

“Lo lupa kalau gue anak kandungnya Pak Richard?”

“Ya ampun ni bocah ngayalnya ketinggian banget,” ledek Rima lagi.

“Bangun, Fara Dikaraaa,” ucap Nessy, Adel dan Rima kompak.

Hah? Jadi semua itu hanya mimpi? Aku tetap Fara Dikara si karyawan biasa di Golden Corp ini?

Aku beranjak ke toilet dan mencuci muka. Ah, benar saja semua itu hanya mimpi belaka. Ini hari ketiga aku menjadi asisten pribadi si galak itu.

Bagaimana bisa aku mimpi buruk hingga puluhan episode?

“Sumpah ya, gue nggak bisa kerja sama bos galak dan nyebelin kayak si Adam Yudhistira!”

“Fara, lo kenapa sih ngomel mulu?” tanya Rima sambil menggelengkan kepalanya.

“Nggak cuma dimarahin, tapi gaji gue juga dipotong hanya karena telat lima menit doang!”

“Makanya jam kerja jangan tidorrr,” ucap Nessy sambil cekikikan.

*ting … ting … dua pesan masuk ke ponselku dari bos baru yang menyebalkan itu.

[Siapkan berkas untuk meeting siang ini. Ingat jangan ada yang terlewat]
[Jika satu saja tidak ada, bersiaplah untuk tidak menerima gaji bulan ini]

“Harrggghhhh! Diantara banyak bos yang ada, kenapa gue harus kerja sama Adam Yudhistira!?”

“Sabar Fara, orang sabar pasti kesel. Hahaha.”

Sial, jika bukan sahabatku, ingin sekali aku cekik Adel, Nessy dan Rima.