Bos Galak Nyebelin Bab 7 : Lo Milik Gue

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 7 : Lo Milik Gue

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 6

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

“Jangan lupa tutup pintunya.”

Aku berbalik badan dan melihat senyum super menyebalkan di sudut bibirnya.
Rasanya ingin sekali kuacungkan jari tengah dan membanting pintu sebelum keluar dari ruangan ini.

“Haarrrgghh!” teriakku kesal sambil menyentuh daun pintu.

Aku hanya bisa berteriak meluapkan amarah.

‘Sabar, Fara! slow, rilex,’ batinku menenangkan diri.

“Minggir lo!”

Baru saja aku akan membuka pintu, dari luar sudah ada orang yang menyelonong masuk.
Tidak biasanya Bogabel mengijinkan seseorang untuk dengan mudah masuk ke ruang kerjanya.

“Ngapain lo kesini?” tanya Adam datar.

“Emangnya aku nggak boleh dateng ke kantor calon suami sendiri?”

Aku masih mendengar jawaban terakhir orang itu sebelum sukses keluar dari kandang macan.

Tunggu, sepertinya aku pernah mendengar ucapan serupa, tapi dimana ya?

“Muka di tekuk gitu setiap kali keluar dari ruangan bos ganteng. Lo itu sebenarnya kenapa sih, Fara?” tanya Nessy kepo.

Aku hanya meliriknya sambil memanyunkan bibir dan merebahkan badan ke kursi.

“Meski ini hari yang menyenangkan, tapi juga jadi hari yang menyebalkan, huh,” keluhku pasrah.

“Gue heran deh, bukannya happy bisa setiap hari mandangin bos tamvan kita, lo kok malah kayak kelihatan benci gitu, Fa? Tukeran aja yuk sama gue,” celetuk Adel asal.

“Iya leh, dasar Fara aneh,” timpal Rima sambil terus memasukkan keripik ke mulutnya.

“Lo sempet ketemu sama nenek lampir tadi apa gak, Fa?” tanya Nessy bersemangat.

“Bahh, nenek lampir!? yang mana?” Aku balik bertanya pada sahabat baikku itu.

“Itu yang barusan masuk ke ruangan bos tamvan kita,” timpal Adel datar.

“Ho’oh, nenek lampir yang sok yes, sok paling oke itu, hih,” ucap Nessy geram.

Aku tidak faham siapa yang mereka maksud, apakah perempuan tadi?
Sebab, di kantor ini yang biasanya di sebut sebagai nenek lampir adalah manager dari divisi lain yang kerap mengacau pekerjaan tim kami.

“Jangan sampai deh dia benaran jadi pasangan bos macho kita, yakan?”

Rima yang biasanya jarang berkomentar saja, tumben sekali mengeluarkan pendapatnya.

*ehemmm ….

Suara deheman dari Bu Stella sukses membuat kami semua kembali bekerja.
Untung saja hanya mendapatkan sindiran halus dari beliau.
Biasanya dia berpura-pura batuk, bersin, menerima panggilan telpon dengan suara keras bagai menggunakan toa dan lainnya, agar kami sadar bahwa ini masih jam kerja.

Tapi bukan Nessy namanya kalau membuat pembahasan ini selesai begitu saja.

*anti ghibah ghibah club grup chat

[Nescan : Pengen gue cakar wajah nenek lampir itu.]

[Rimami : Kalau gue mau ngurungin si macho.]

[Delkyut : Gue cuman kagak mau dia dateng kesini lagi sih, simpel aja.]

[Rimami : Lagian ngapain juga dia dateng kesini coba.]

[Nescan : Entahlah, yang jelas cewek kayak dia gak cocok sama bos ganteng kita.”

[Adelkyut : Tebak mereka lagi ngapain di dalam sana?]

[Rimami : Kok gue jadi kepikiran aneh-aneh yah?]

[Nescan : Pantesan Fara selalu kelihatan beda setiap kali keluar dari ruangan bos kita, hayo … kira-kira itu kenapa?]

[Farafara : Gue baik-baik saja woy.]

Aku tidak tahu sedang membicarakan nenek lampir yang mana mereka. Jadi langkah terbaik adalah menyimak dulu saja.

Aku masih kesal dengan ulah Bogabel di ruangannya tadi, selain itu dia pula yang menghancurkan mood yang sudah sangat baik sejak pagi.

*kring ….

Bunyi notifikasi pengingat di ponsel untuk persiapan meeting siang ini membuyarkan lamunanku.
Segera kutelpon ke ruang kerja Adam agar dia tidak lupa.

“Iya, ayo pergi sekarang.”

“Masih sekitar setengah sampai satu jam lagi, Pak.”

“Oh iya, harus pergi sekarang juga? Baiklah,” ucap Adam ngawur.

Sejak kapan dia bersikap begini dan tidak protes?

“Bukan sekarang, Pak, ini hanya pengingat saja.”

“Iya, tentu kita tidak bisa telat, ayo berangkat.”

Aku makin merasa ada yang aneh. Disini seakan Bogabel ingin sekali pergi ke acara meeting itu. Padahal belum waktunya.

“Tidak sekarang, Pak, huh.”

“Oke, saya akan keluar sekarang.”

Sial, belum sempat aku menjawab apapun, si galak itu sudah mematikan telponnya.
Apakah benar dia akan keluar dari ruangannya sekarang?

“Kenapa lagi, Fa?” tanya Rima sambil berbisik, khawatir Bu Stella akan mendengar kami.

“Tumben Bogabel, eh Pak Adam, bersemangat buat meeting siang ini. Kayaknya ada yang aneh, Mi.”

“Gara-gara nenek lampir itu kali,” ucap Rima si Mami singkat.

Aku sendiri sudah bersiap jika memang Adam akan berangkat sekarang.

Kudengar pintu itu terbuka dan suara langkah kaki yang menuju ke arah sini.

“Loh, si nenek lampir tadi mana ya?” ucap Nessy sambil melihat sekitar.

“Masih di dalam pasti,” timpal Adel dengan suara setengah berbisik.

“Fara, let’s go,” ajak Adam sambil terus berjalan keluar.

Aku yang sudah siap berangkat, langsung mengikutinya di belakang.

“Adam tunggu! Gak bisa donk ninggalin aku gini aja. Apa kalian lihat-lihat, hah!?”

Mendengar itu, aku reflek berbalik dan menemukan seorang wanita yang kuingat bernama Anita sedang mengejar kami dan menatap sinis para sahabatku.
Apakah yang dimaksud oleh Nessy dan lainnya sebagai nenek lampir adalah Anita?

Sementara Bogabel tidak bergeming. Dia tetap berjalan dengan angkuh dan segera memasuki lift.

Di dalam lift yang berisi kami berdua, sebenarnya aku ingin bilang jika meeting masih lama, tapi kuurungkan karena di lantai 10, lift terbuka dan beberapa orang masuk.

Hingga saat di parkiran dan memasuki mobil aku baru mengeluarkan suara.

“Pak, apa kita nggak akan terlalu awal tiba disana?”

“Enggak. Gue malah sengaja mau datang lebih awal.”

Entah kesurupan apa Bogabel ini, dia terlihat sangat bersemangat untuk bertemu Pak Richard.

Kami memasuki ruangan yang sudah disediakan, beberapa saat kemudian ternyata banyak sekali orang yang sudah datang. Ini cukup aneh, padahal dalam jadwal yang tertera, rapat hanya akan dimulai sekitar 30 menit lagi.

Aku yang berada di ruangan berbeda dengan Adam segera melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
Huh, Bogabel ini sungguh menyebalkan. Seharusnya dia bisa saja datang kesini tanpa harus membawaku segala.

Dua jam berlalu dengan cepat. Kulihat banyak orang sedang keluar dari ruang rapat.

Tidak kusangka ternyata diantara banyak orang yang berjas itu, ada seseorang yang sangat familiar.
Cowok cool yang dua kali kutemui di lift.
Dia keluar bersama Adam dan Pak Richard.

Aku mendekati Bogabel dengan perasaan deg-degan. Jika setiap ada rapat dan cowok itupun datang, aku akan dengan senang hati mengikuti kemanapun Adam pergi.

Arghh, kenapa bosku malah yang menghampiri kesini?

“Apa lo lihat-lihat?” tanya Adam ketus.

“Enggakkk ada,” jawabku asal.

Di parkiran, ternyata mobil Bogabel tidak jauh dari letak mobil cowok itu. Tanpa sadar, aku terus memandanginya.

Ya Tuhan, apa aku sedang bermimpi?
Kulihat dia tersenyum dan melangkah ke arahku!
Benar saja, dia sedang berjalan kesini.

“Aarrgghhh!” Aku menjerit seketika saat dia akhirnya mendekati Adam, meraih kerah baju bosku, dan melayangkan satu pukulan keras.

Adam tidak mau kalah, dia juga meninju wajah cowok itu hingga lawannya terjungkal.

“Stop!” jeritku takut sampai ingin menangis.

“Sorry,” ucap cowok itu lirih sebelum beranjak pergi.

Adam yang kesakitan berusaha berdiri sambil mengusap ujung bibirnya yang berdarah. Dia masuk ke dalam mobil dan membanting pintu.

“Lo ngapain segala nangis? dasar cewek cengeng.”

“Kalian ada masalah apa? hiks, hiks … gimana kalau dia sampai terluka?”

“Woy, lo milik gue! kenapa malah jadi belain si bodoh itu?”

“Tapi kenapa sampai saling pukul gitu? huhuhu.”

Entah kenapa aku malah menangis tersedu mengingat kejadian menegangkan barusan.

“Lo nggak bakal ngerti,” ucap Adam datar.

Dapat kulihat dari raut wajahnya jika saat ini Bogabel sedang kesal.

Aku ingat di dashboard mobil ini ada P3K. Segera kuambil dari isinya untuk mengobati luka Adam.

“Oouuchh … pelan-pelan woy, sakit tau.”

“Iya, bawel banget sih.”

“Haarrrgghh!”

Sukurin, aku sengaja menekan lukanya di ujung bibir Adam sedikit kencang, habisnya jadi orang kok ya sangat menyebalkan. Lagipula kapan lagi aku bisa membalas dendam.

Setelah agak reda sedikit, Adam mulai melajukan mobilnya dan meninggalkan gedung parkir.

“Pak, kita mau kemana? ini bukan arah ke kantor ‘kan?” tanyaku heran.

“Pulang,” jawab Adam datar.

Masuk ke apartemen, dia merebahkan badan di atas sofa sambil sesekali menyentuh lukanya.

“Nih.” Kusodorkan sebuah cangkir berisi air hangat.

Adam langsung meminumnya dan mengucapkan terima kasih.

‘Tumben?’ batinku heran.

“Gue minta maaf buat tadi, lo harus lihat sesuatu yang nggak seharusnya,” ucap Adam lirih sambil meletakkan cangkir diatas meja.

“Umm, iya nggak apa-apa.”

“Tidur sana, nggak usah balik kantor lagi.”

“Huuumm?!”

“Sana lo istirahat di kamar kemarin. Apa mau tidur di kamar gue?”

“Haisshh, enggaklaaahhhhh.”

Aku melipir masuk ke kamar yang kutiduri sebelumnya.
Hari ini benar-benar melelahkan. Aku sangat penasaran pada siapa cowok itu sebenarnya. Apalagi bagaimana bisa dia langsung memukul Bogabel seperti tadi?

Ada apa dan ada masalah apa diantara mereka?

*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung ….

Kulihat ada panggilan masuk dari Tante Grace. Ada apa ya?

“Iya, Tante ….”

“Gimana ceritanya Rion sampai mukul Adam tadi? tanya Tante Grace dari ujung sana.

Bagaimana dia bisa tahu soal kejadian tadi?

“Em, Fara nggak tahu pastinya, Tan, tiba-tiba mereka saling pukul gitu. Fara aja sampai takut.”

“Ya udah, tante minta tolong jagain Adam dan biarin dia tetap di rumah, ya. Bisa kan, Fara?”

“Baik, Tante.”

Aneh. Bagaimana bisa Tante Grace sebegitu khawatirnya pada Adam.
Lalu tadi, siapa dia? apakah cowok cool itu bernama Rion?

Aku masih ingat Adam sempat menyebut nama itu saat dia mabuk.
Siapa sebenarnya Rion itu?

Ah, kepalaku terasa pusing, saat ini aku juga sangat lapar.
Adakah sesuatu yang bisa kumakan?
Lebih baik aku ke dapur saja dan mencari makanan disana.