Bos Galak Nyebelin Bab 8 : Mie

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 8 : Mie

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 9

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

Demi apapun, akan sulit untuk mengalahkan aroma wangi dari mie instant kuah ini.
Untungnya kutemukan bahan makanan di dapur, jadi aku bisa terhindar dari bahaya kelaparan.

Kulihat pintu kamar Adam tertutup. Apa dia sedang tidur ya?

Aku masih berdiri di depan kulkas sembari mencari minuman dingin sebelum bersiap untuk menikmati mie kuah yang dari aromanya saja sudah terbayang kelezatannya.

*ting …
*ting …
*ting ….

Handphoneku terus berbunyi sedari tadi.
Ternyata notifikasi dari grup ghibah yang sangat ramai.

Akan aku simak satu persatu sambil menikmati makananku setelah ini.

“Pak Adam, itu makanan saya!” teriakku kesal saat kulihat Bogabel sedang melahap mie yang sudah berada di meja makan.

“Ini rumah gue kalau lo lupa. Fara jelek.”

“Hishhh, enak aja.”

Aku benar-benar lapar saat ini, jadi tetap kuhampiri manusia menyebalkan itu dan tanpa ragu, aku mulai mencicipi kuah dari mie tadi.

“Lo taruh apaan ini, woy. Pedes banget.”

“Cuman bubuk cabe, ehehee.”

“Pantesan pedes banget.”

‘Pedas pedes tapi tetap dimakan, huh,’ batinku kesal.

Bagaimana bisa dia langsung keluar dari kamar dan merampok makananku seperti itu.

Entahlah, tapi kami berdua seakan saling berebut untuk memakan mie yang ada di dalam mangkok ini. Bahkan kuahnya sampai ludes kami habiskan.

*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung …
*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung ….

Hingga beberapa kali ponselnya berbunyi, Adam tidak bergerak dari tempat duduknya sampai akhirnya dia menjawab telpon dan berbicara di balkon.

“Pak, saya pulang sekarang aja ya?” kataku setengah berteriak agar dia bisa mendengar dengan maksimal.

“Terserah.”

Baru akan beranjak pergi, tiba-tiba Adam malah memanggilku.

“Fara ….”

“Iyap ….”

“Lo pernah patah hati?” tanya Adam aneh.

Tumben sekali dia bertanya hal konyol ini.
Setelah beberapa bulan bekerja dengannya dan menjadi asisten pribadi yang juga mengurusi banyak hal pribadinya, sedikit banyak yang kutahu Anita adalah kekasihnya, bahkan mereka sudah bertunangan.

“Umm, pernah. Kayaknya itu umum terjadi pada setiap orang kali,” jawabku asal.

“Gimana caranya lo bisa sukses move on?” tanya Adam lagi.

“Kayaknya nggak pernah bisa dibilang sukses move on. Kita cuman bisa terbiasa dengan itu dan berharap suatu hari akan ada orang baru yang membuat patah hati hilang.”

“Patah hati hilang pala lo. Gak semudah itu.”

“Emang Pak Adam lagi patah hati?”

“Kepoooo!”

“Hissshh, tadi yang nanya siapa coba?”

“Katanya lo mau pulang?”

“Lah iya, ini juga mau pulang.”


Pagi ini di kantor, ketiga sahabatku sedang asyik membahas Anita yang mereka sebut sebagai nenek lampir kedua setelah manager dari divisi lain menyandang nama yang sama.

“Eh, Fa, gue denger lo sempet nginep di rumah Pak Adam, yah?” tanya Rima penasaran.

“Kata siapa?” jawabku balik bertanya.

“Udah banyak yang tahu kali, Fa,” timpal Nessy sambil berkedip aneh.

“Gue mau donk nginep juga,” ucap Adel bercanda.

“Mau lo di labrak sama calon istrinya? beuhh, gue empet banget tau lihat mukanya.”

“Kalian kenapa sih, gaes?” tanyaku tidak mengerti.

“Ya ampun, Fara, kemarin tuh pas lo sama Pak Adam pergi, nenek lampir itu ngamuk-ngamuk disini. Gak ngerti gue apa masalahnya.”

“Ngamuk-ngamuk gimana, Nes?”

“Ngancem kita-kita buat nggak ganjen dan deketin Pak Adam lah. Gila aja, toh kita juga becanda, hih.”

Nessy terlihat sangat kesal hanya dari nada bicaranya.

“Gue rasa lo mesti hati-hati juga yah Fa, kayaknya dia gak suka sama lo,” ucap Rima khawatir.

“Apalagi lo sering pergi sama Pak Adam,” ucap Adel mengingatkan.

“Makasih semuanya. Luv kalian banget. Kalau bisa juga gue males diposisi ini. Bisa stress lama-lama.”

“Selamat menikmati,” ucap Rima sambil cekikikan.

“Eh tapi kalian lihat nggak sih kalau kelihatannya tuh Pak Adam kayak nggak sreg gitu sama Anita?” sambung Rima.

“Maksudnya!?”

“Entahlah, mungkin itu perasaan gue aja.”

“Pagi, Bu Stella ….”

Kami semua mengatakan itu hampir bersamaan. Jika beliau sudah datang, mana bisa lagi kami bergosip ria.

“Pagi.”

Seperti biasa, Bu Stella menyunggingkan senyum dan mulai bekerja.

Bos menyebalkan itu juga baru datang dan memintaku masuk ke ruangannya.

Uh, ada apa lagi sekarang.

“Duduk.”

“Ada apa, Pak? apa saya melakukan kesalahan?”

“Baru nyadar ya lo kalau udah melakukan kesalahan?”.

“Tapi apa salah saya, Pak?”.

“Salah lo banyak kalau lo gak inget.”

“Huum?” Aku berpikir keras, kira-kira kesalahan apa yang aku lakukan? Perasaan semuanya adalah sebuah kesalahan.

“Gue mau minta tolong sama lo.”

“Tentang?”

“Rion.”

Sejak kejadian pemukulan waktu itu, jujur saja aku menjadi sangat terobsesi untuk mencari tahu siapa Rion.
Selain itu, aku juga tertarik padanya sejak lama meski tentu saja itu hanya angan biasa.

“Rion, yang waktu itu mukul bapak sampai berdarah?”

“Gue juga bales sampai bibirnya berdarah kali.”

“Memangnya apa yang bisa saya lalukan?”

“Nggak jadi ah. Kelihatannya lo nggak bisa diandalkan.”

“Yaudaaahhhhhhh.”

“Lo ngambek?”

“Enggakkk.”

“Terus? Balik kerja sono.”

“Iyaaaaaaa ….”

“Huuu jelek.”

“Hih, nyebelin. Galak.”

“Yyeeekkkk!”

Jika saja ada minuman atau apa disini, pasti sudah aku tumpahkan air itu di wajah si Bogabel.

Beberapa menit lagi jam kantor akan usai. Biasanya aku memang pulang bersama ketiga sahabatku karena tempat tinggal kami satu arah.

Rima yang menyetir dan tidak jarang dia juga menjemput kami untuk berangkat ke kantor bersama. Rima sudah menikah dan memiliki seorang putri. Makanya kami sering memanggilnya dengan sebutan Rimami atau Rima si Mami. Adel dan Nessy masing-masing punya pacar.

Aku sendiri tinggal di sebuah kost putri yang cukup ramai.
Ibu pemilik kost sangat keras pada kami dan tidak mengijinkan seorang lelaki memasuki kawasan ini, meski banyak juga yang berhasil mengelabuhi Ibu kost dan dengan bebasnya berduaan di kamar.

Beberapa kali aku memang melaporkan hal ini, hingga banyak yang melabeliku sebagai kang lapor.
Namun, sebenarnya tanpa aku melaporpun, akan banyak bukti jika mereka membawa laki-laki.

Sebal karena mengingat kelezatan mie yang dirampas Adam itu, akhirnya aku membuat makanan ini lagi. Aku tahu bahayanya dan banyak hal negatif jika terlalu banyak mengkonsumsi mie instant ini. Tapi sebagai salah satu anak kost, mie sudah jadi makanan yang umum dikonsumsi.

Selain suka menonton drama Korea, saat ini aku juga sedang hobby menyaksikan berbagai video kuliner. Apalagi street food yang sangat menggoda.
Bahkan video yang bedurasi 28 menit saja, sabar kutonton hingga akhir.

*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung ….

Hah? ngapain jam segini Bogabel menelpon?

“Halo ….”

“Bener Lo, Fara?” tanya seseorang dari seberang sana.

Aku yakin ini bukan suara Adam. Lalu siapa?

“Siapa nih?”

“Tommy. Jemput bos lo nih.”

Haisshh, sejak kapan aku jadi supirnya? Ya meskipun aku sudah bisa menyetir karena Adam juga yang membayar kelas menyetirku, tapi tidak ada perjanjian aku harus menjemputnya.
Apalagi sudah selarut ini.

“Dimana?” tanyaku akhirnya.

“Gue bakal share loc nya.”

Huh, selain galak, nyebelin, sekarang juga merepotkan.
Lagian ngapain juga tu orang sok-sokan pergi ke tempat begituan segala?
Benar-benar menganggu waktu istirahatku saja.