Bos Galak Nyebelin Bab 10

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 9 : Stay

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 8

“Halo? Dimana Pak Adam?”

“Lo dimana?”

“Udah di depan.”

“Seep. Masuk aja.”

Haarrrgghh, bagaimana bisa Adam minum lagi? Sewaktu di acara dinner itu saja sampai mabuk tidak karuan. Ini lagi kenapa dia pergi ke tempat kayak gini?

“Untung lo beneran dateng. Gue belum bisa pulang dan nggak mungkin bawa dia dalam kondisi begini,” ucap Tommy, salah satu teman yang bersama Adam.

“Gimana ceritanya bisa jadi seperti ini?”

“Adam emang payah kalau minum. Lo bisa nyetir ‘kan?”

“Bisa.”

“Good, lo emang serba bisa ya? Jangan bilang bocah tengil ini kalau gue yang manggil lo kesini.”

Dibantu oleh Tommy, Adam sudah berada di kursi penumpang belakang. Persis seperti kejadian sebelumnya, dia terus meracau tidak jelas.

Hal baiknya adalah, parkiran di apartemen tempat tinggal Adam ini tepat dibawah masing-masing unit yang berdekatan dengan lift, sehingga aman membawa laki-laki mabuk ini tanpa harus dilihat banyak orang. Kecuali mungkin melalui cctv.

Adam juga masih setengah sadar, jadi tidak terlalu sulit membawanya ke kamar.

“Kenapa lo yang bawa gue pulang?” tanya Adam sedikit mengenaliku.

Phew, aku masih disini dan dia dengan santainya melepas jeans serta kaos yang dikenakannya.

Sepertinya si galak ini tidak benar-benar kehilangan kesadarannya.

“Gue tanya, kenapa lo disini?”

Sial, kali ini malah Adam tidak mengenaliku.

Ya Tuhan, tolong aku.

Langkah Adam semakin dekat dan … aku terpojok.
Pikiranku sudah pergi kemana-mana.
Aku mengutuki Tommy yang membuat semua kekacauan ini terjadi.

Adam memegangi kepalanya, dia terlihat kesakitan, dan, seperti biasa, hendak muntah, meski hanya air saja yang keluar.

‘Selamat, selamat,’ batinku lega.

Aku memberinya segelas air hangat agar dia cepat tidur, atau lebih baiknya sadar dari kekacauan ini.

Sementara itu Tante Grace tidak bisa kuhubungi karena beliau sedang tidak berada di Indonesia.
Selama ini aku hanya mengetahui si galak ini adalah keponakan Pak Suryo dan orang terdekat lainnya adalah Tante Grace.

Adam sudah berbaring di tempat tidurnya, sesekali masih mengeluarkan air dari mulutnya.
Sudah kusediakan ember kecil di samping ranjang agar kapanpun dia merasa ingin mengeluarkan sesuatu, bisa langsung menuju kesana.

Tidak mungkin aku meninggalkan Adam dalam keadaan seperti ini. Wajahnya terlihat sangat memprihatinkan.
Jikapun aku pulang, apa aku bisa nyenyak tidur?

“Fara, please stay …” ucap Adam dengan tanpa sadar.

Sial, apa yang dia lakukan? Sepertinya Adam menangis. Hah? Masa iya?
Aku jadi semakin tidak tega melihatnya.

“Lo juga mau pergi ninggalin gue?” teriak Adam tiba-tiba.

Fiuh … setiap kali akan beranjak keluar kamar, kenapa dia selalu bilang begitu?
Ada apa sebenarnya dengan si galak ini?

“Pergi aja kalau lo mau,” tambahnya lagi.

Sudah jam 2 pagi. Aku perlu tidur sekarang.
Sedikit berjalan mengendap keluar, mengambil bantal dan selimut di kamar lain dan entah kenapa aku masuk lagi ke kamar bogabel ini.

Aku tidak tega melihatnya begitu.
Sepertinya dia sudah agak pulas, kini giliranku merebahkan badan diatas sofa yang memang terletak di kamar ini, dan menutupi seluruh badan dengan selimut.
Kalau dia sudah benar-benar sadar, mungkin akan kaget melihat keberadaanku disini. Yang jelas, aku ngantuk sekali sekarang.


PoV Adam

Kepala ini terasa sangat berat, gue kagak inget apa-apa kenapa bisa pulang dengan selamat.
Terakhir gue masih sama Tommy.

Woghh, siapa itu yang tidur di sofa?

Jangan bilang gue khilaf dan bawa cewek kesini buat one night stand kayak dulu lagi.

Pelan-pelan gue dekati sosok itu dan membuka sedikit selimut yang menutupi, err … wajahnya? tidak, dia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

Hah? Fara si bawel? kenapa dia ada disini?
Apa mungkin gue ngelakuin sesuatu ke dia malam tadi?
Ini tidak mungkin terjadi.

“Bangun, lo. Kenapa tidur disini?”

“Hish, bukannya Bapak yang minta saya buat nggak pulang? Zzz ….”

“Gue nggak inget apa-apa. Nah, mumpung lo disini, sekalian ke kantor bareng ya?”

“Saya nggak ada baju ganti, Pak. Lagipula perlu pulang dulu buat ambil barang yang perlu dibawa.”

“Oke. Mampir ke tempat lo sebelum berangkat ke kantor.”

Bangke, ini pasti ulah Tommy.
Awas aja itu anak.

*ting ….

Panjang umur juga dia, baru saja gue omongin langsung nongol, pesannya.

[Sorry, Dam, semalem gue bener-bener kagak bisa bawa lo pulang. Jadi ….]

[Sialan lo.]

[Ampun, tapi kayaknya Fara nggak bakal nyelakai elo, kan?]

[Gue udah celaka sejak kenal sama lo!]

[Sans donk, ngeri gue kalau lo marah gitu.]

[Bangke lah. Sahabat macam apa lo?]

[Iye, sorry, hahaha.]

“Lo bisa mandi di kamar mandi yang satunya kalau lo mau. Atau mau mandi sama gue?”

“Hisshh, ngarang!”

Fara terlihat lucu dengan ekspresinya itu.

Gue dan Fara ke kantor bareng, sebelumnya mampir dulu ke tempat tinggalnya yang tidak terlalu jauh dari lokasi kantor. Sepertinya dia memang memilih lokasi seperti ini agar tidak telat masuk kerja.

Gue memang nggak bisa tanpa minum kopi di pagi hari, jadi mampir ke kedai kopi dulu untuk sekalian mencari sarapan.

Jadi cowok ganteng di kantor ini memang melelahkan. Banyak yang terpesona sama aura gue, kecuali si bawel ini, hadehh.

“Sayang … kamu baru dateng?” tanya Anita yang entah sejak kapan sudah berada di ruangan gue ini.

“Ngapain lo disini?”

“Kamu kenapa sih selalu ketus sama aku?” Anita mulai mendekat, dan … ahh, sial. Tidak bisa gue pungkiri kalau sepagi ini dan disuguhi pemandangan kayak gini, bisa oleng juga pertahanan gue.

Apalagi Anita memakai mini dress berwarna hitam yang seksi.

“Apaan sih lo? Ganggu gue kerja tahu nggak?”

Sengaja gue tepis semua sentuhan itu, walau memang gue tidak bisa bohong kalau tergoda juga.
Tapi kalau mengingat bayangan Ferry waktu itu, semuanya tidak lagi sama.

Kenapa orang tua gue milihin cewek kayak gini buat anaknya sendiri?
Dasar orang tua aneh.

“Aku nggak tahu kenapa dan apa salah aku sama kamu, Adam. Kenapa kamu selalu bikin aku sakit hati gini?”

“Maksud lo apa sih? gue nggak ngerti.”

“Ya kamu ini. Kita bahkan tidak pernah terlihat sebagai pasangan yang akan segera melangsungkan pernikahan!”

“Siapa juga yang mau nikah sama lo?”

“Kamu tega banget, aku bakal aduin semua ini ke Kak Rion!”

“As you please.”

“Adam! kamu nggak bisa giniin aku terus-terusan tahu nggak!? apa karena ada cewek lain yang gangguin kamu? cewek murahan yang jadi asisten pribadi kamu itu?”

“Ngomong apa sih, lo? nggak usah ngarang. Lebih baik lo pergi deh gue sibuk. Satu lagi, kagak ada hubungannya sama siapapun, ngerti?”

Anita akhirnya pergi meninggalkan ruangan ini, sebelum Fara malah datang dan mereka berdua berpapasan.

“Heh, lo cewek murahan! nggak usah ngimpi bisa deketin calon suami gue!” teriak Anita tepat di depan Fara.

Hadehh, ini tidak akan berakhir damai.

“Ada yang bisa saya bantu, Bu?”

Njirr, kagak pernah gue sangka Fara akan ngelawak gitu.

“Gak usah ganjen deh lo jadi orang kalau masih ingin kerja!”

“Maaf, tapi saya nggak kerja sama Bu Anita.”

Harus gue akui Fara emang jago bicara.
Dalam hati ingin tertawa rasanya, tapi gue tahan sekuat tenaga.

Akhirnya Anita pergi juga dan Fara?
Cewek ini bahkan terlihat seperti tidak terjadi apa-apa.


PoV Fara

Benar-benar malam yang melelahkan. Aku malas sekali untuk masak sekarang.
Jemariku mulai menjelajahi menu makanan yang bisa aku pesan, sebelum akhirnya ada satu panggilan dari Pak Adam.

Ngapain dia nelpon malam-malam? Tidak mungkin kan ini masalah pekerjaan?

“Halo, iya, Pak? Apa ada masalah?”

“Gue kan udah bilang, jangan panggil ‘Pak’ kalau di luar kantor.”

“Umm, iya, Adam? Apa ada masalah?”

“Haha, lo lucu. Eh, udah makan?”

Kenapa aku merasa pertanyaan Adam ini aneh? Karena memang belum makan, aku bilang jujur.

“Oke, 20 menit lagi gue kirim taksi buat jemput lo, ya? Gue yang masak.”

“Hah? Saya udah pakai piyama!”

“Lo punya 20 menit buat siap-siap.”

Huumm, aku segera berganti baju dan bersiap.

Heh, kenapa malah Adam yang ada di depan pagar? Bukannya dia bilang akan mengirim taksi?

“Kenapa Bapak yang ada disini? Katanya tadi mau kirim taksi?” tanyaku heran.

“Gue mutusin untuk nggak males dan jemput lo,” jawab Adam asal sambil tertawa.

Tempat tinggal kami memang tidak terlalu jauh, jadi cepat sekali sampai.

“Ada yang bisa saya bantu?”

“Lo duduk aja, biar gue yang kerjain semuanya.”

Ah, apa benar si galak itu bisa masak?
Aku ragu dengan hasilnya nanti.

Originally posted 2020-09-18 15:55:21.