Cerita Sinetron Ikan Terbang

Cerita Sinetron Ikan Terbang


Beberapa waktu ini sering ada yang protes tentang tulisan maupun cerita dengan tema rumah tangga yang dikatakan seperti sinetron ikan terbang. Menariknya, tema ini banyak diminati.

Menurutku, setiap karya ada porsinya, ada peminat/pembacanya masing-masing. Tergantung bagaimana kita mendalami cerita itu sendiri. Setiap penulis juga punya passion serta ciri khas mereka sendiri.
Para pembaca juga bebas memilih genre apa yang mereka sukai.

Kenapa tulisan tema rumah tangga banyak like dan komennya?
Bisa jadi karena penulis berhasil membangun ‘believable’ atau kepercayaan pembacanya dan mungkin juga pembaca itu ‘relate’ atau merasa terhubung gitu sama cerita yang sedang mereka baca.
Atau malah tidak jarang seseorang mengalami posisi yang sama dengan tokoh di dalam cerita sehingga makin larut saat membaca.

Pernah tidak sih kita membaca sesuatu yang mungkin pernah kita alami atau lihat? Tentunya kita jadi merasa terwakilkan bukan?

Sesuatu yang ‘possible’ atau bisa jadi terjadi di sekitar kita sepertinya memang bikin penasaran untuk disimak.
Contohnya dalam tulisanku yang berjudul #SatuAtap, ada yang bertanya :

“Ini fiksi atau kisah nyata sih zeeyeng?”

“Masa ada sih menantu seperti Yuli di dunia nyata?”

Jawabannya ‘ada’, aku menulis itu karena terinspirasi dari kisah nyata yang tentu saja dibumbui fiksi ala Aandzee. Bahkan bisa jadi ada cerita serupa meski kisahnya tidak sama.

Lalu jika ada cerita tentang gadis berumur 16 tahun yang telah menjadi ketua gangster dan mafia nomor 1 di dunia, apakah kalian akan percaya?

16 tahun udah jadi badboy, nggak pernah belajar tapi ikut olimpiade, pekerjaannya adalah seorang CEO (Chief Executive Officer).

16 tahun bisa jadi kayak gitu?
Bisa, di cerita halu.
Bisa jadi ‘believable’ juga dengan kejelasan.

Sebagian dari kita mungkin tidak akan percaya, tapi ya gimana, imajinasi penulis kan tidak ada batasnya.
Asal jangan kebanyakan ngehalu saja.
Melambungkan fantasi indah yang diharapkan jadi nyata. Ingat realita, tidak semua kisah berakhir bahagia seperti yang ada di dalam novel atau drama karena yang bikin ending atau akhir ya, si authornya.

Menulis satu part bisa memakan waktu sekitar 2 jam. Lalu bacanya palingan sekitar 10 atau malah lima menitan.
Jahat deh kalau tidak diapresiai tapi malah dijatuhkan.

Semoga kita semua bisa menjadi pembaca yang menghargai karya apapun genre dan temanya, yaa.

Ok zeeyeng! 💜

Originally posted 2020-06-22 12:05:23.