GELUD ONGKIR 5 RIBU

‘Ready donat empuk lezat bahenol. Free ongkir di bawah jarak 8km.’

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

*ting … satu pesan masuk ke inbox penjual

[Mau donatnya donk, Mak. 1 box ya]

[Siyap, Mak. Kirim kemana?]

[Jalan Sukasukasaya RT 05]

[Kena ongkir 5 ribu ya, Mak?]

[Ok]

*Satu minggu kemudian

‘Ready donat empuk semok menul-menul. Free ongkir.’

*ting … pembeli yang sama mengirimkan sebuah pesan.

[Mak, mau donk 1 box lagi ya]

[Ok]

*Dua jam kemudian

[Mak, kok ada tambahan ongkir 5 ribu?]

[Emang ada ongkir untuk pengiriman diatas jarak 8km, Mak]

[Di status yang Mak posting, nggak ada batas jarak. Cuma bilang free ongkir. Kenapa jadi ada ongkirnya?]

[Jarak rumah Mak itu 10km dari sini, makanya kena ongkir. Lima ribu aja diributin, Mak]

[Halo, Mak, suami saya tentara ya. Jangan dikira saya meributkan ongkir 5 ribu]

[Mau suami tentara atau presiden, ongkir ya ongkir, Mak]

[Tapi harus ada kejelasan dulu soal ongkirnya donk, Mak]

[Mak kan nggak sekali ini aja beli dan yang pertama ada ongkirnya. Kenapa sekarang ribut dan bawa-bawa suami tentara? Sodara saya juga polisi yang punya bintang lima berjejer ya, Mak]

[Males beli sama penjual kayak Mak meski donatnya enak]

[Ya udah, emangnya pembeli saya cuma Mak aja apa?]

Akhirnya mereka berdua saling blokir.
Tadinya seller bisa menjual donatnya dan buyer bisa makan kue kesukaannya, sekarang sudah tidak bisa lagi karena kesalahan dalam komunikasi.

Penjual salah karena tidak mencantumkan batas jarak free ongkir.
Pembeli tidak konfirmasi soal tambahan ongkir 5 ribu berdasarkan postingan penjual.

Penjual dan pembeli itu saling membutuhkan satu sama lain.
Hal-hal yang dapat memicu gelud sebaiknya dibicarakan baik-baik dan tidak dengan emosi.