aandzee.id – Harta Berharga Majikan Bab 1 : Gelay

“Sus, minta uang! Cepetan! Sini kasih!”

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

“Jangan, Bu, ini bukan uang Susi.”

“Udah sih, kan bisa dibayar pakai gajimu! Jangan jadi anak durhaka kamu ya!”

“Gaji minggu ini saja sudah diambil bulan lalu, Bu.”

“Banyak omong. Dasar anak durhaka. Kualat nanti kamu ya,” seru Ibu sambil mencengkeram tanganku kasar.

“Mak Nur, Susi … ada apa ini?!”

Suara lantang dari arah depan toko kelontong milik Bu Haji Fatimah berhasil menyelamatkanku dari ancaman bahaya yang datang dari Ibu kandungku sendiri.
Ya, Ibu yang sudah melahirkanku dan terletak surga dibawah kakinya.

“Eh, Mbak Naning, mau beli apa, Mbak?” tanyaku.

Ibu kemudian melipir pergi tanpa kata-kata. Sebelum itu, kulihat matanya membulat pertanda ‘awas kamu’.

“Beli roti tawar, Sus, satu bungkus.”

“Di depan itu, Mbak.”

“Em, maksudku roti tawar yang ada sayapnya. Hahaha.”

Aku pun ikut tertawa terpingkal mendengar ucapan Mbak Naning.
Tinggal bilang saja mau beli pembalut kok ya pakai bilang roti tawar segala. Dasar.

Namaku Susi. Tahun ini akan genap berusia 18 tahun. Sudah sejak lama aku bekerja sebagai penjaga toko kelontong milik Bu Haji Fatimah di ujung desa tempatku tinggal.

Dengan hanya lulus pendidikan dasar dan SMP, sangat sulit bagiku mencari pekerjaan yang lain. Apalagi tinggal di desa kecil seperti ini, sudah merupakan anugerah karena aku bisa diterima bekerja untuk menjaga toko dengan h
gaji yang dibayar perminggu.

“Sekalian beli minyak telon sama obat nyamuk ya, Sus,” pinta Mbak Naning dengan senyum khasnya.

“Aciap, Mbak. Tumben Mbak Ning di rumah? Pulang kapan?”

“Iya nih, aku lagi holide seminggu. Lusa udah berangkat lagi.”

“Wih, holide. Pulang kampung kali Mbak. Hahaha.”

“Ya aku kan holidenya pulang kampung ta, Sus, haha. Eh, tadi Ibumu ngapain?” selidik Mbak Susi serius.

“Biasalah, Mbak, minta uang. Padahal gajiku minggu ini saja sudah diambil bulan lalu.”

“Ibumu masih suka ngutang di Mak Jem itu ya?”

“Iya, Mbak. Belum lunas sudah pinjam lagi. Begitu terus sampai bunganya manak berkali lipat.”

“Minta Ibu kamu stop ngutang disana lagi, Sus. Keenakan Mak Jem nanti.”

“Tapi kan harus lunas dulu hutang yang lama, Mbak,” ucapku lesu.

“Sabar ya, Sus. Aku tahu rasanya kok karena dulu Ibuku juga pernah ngutang di Mak Jem. Tapi sekarang no way!”

“Entah berapa tahun lagi hutang Ibu akan lunas, Mbak.”

Tidak tahu kenapa kali ini aku benar-benar bisa terbuka membahas ini pada Mbak Ning. Padahal topik ini seperti sebuah aib yang seharusnya aku tutupi.

“Eh, Sus, ikut aku aja yuk kerja di kota.”

“Kerja apa Mbak, di kota? Nanti tahu-tahu kayak film SOLD (2016) yang Lakshmi itu. Hiiii.”

“Heh, sembarangan kamu. Aku kerja jadi ARTA di kota. Bukan kayak film yang kamu tonton itu.”

“Apaan ARTA, Mbak?”

“Asisten Rumah Tangga Asli. Hahaha. Aku ada lowongan kerjaan kalau kamu mau.”

“Kerjanya ngapain aja, Mbak?” tanyaku penasaran.

“Bersih-bersih rumah, Sus. Tapi gajinya lumayan. Kamu bisa segera melunasi hutang Ibumu nanti.”

“Oh, PRT ta, Mbak.”

“Mau PRT atau ART ya sama, Sus. Intinya kita bekerja di sebuah rumah dan mengurusnya lalu mendapat gaji. Pekerjaan utama ya banyak bersih-bersih. Perlu diingat, aku bukan babu. Kata babu mengandung unsur antikemanusiaan yang berat,” ucap Mbak Naning lugas.

“Tapi Mbak, sampai saat ini aja, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) masih merekam istilah ‘babu’ sebagai perempuan yang bekerja sebagai pembantu (pelayan) di rumah tangga orang.”

“Hadehh, kata babu tuh dikenal luas sebagai istilah yang diskriminatif dan merendahkan, Sus. Selayaknya dihempaskan dari tutur kata orang beradab. Jangan malu jadi pembantu rumah tangga karena kita bekerja dan mendapat gaji. Kata babu erat kaitannya pada masa sebelum kemerdekaan. Tapi sejak tahun 1945 negara kita kan udah merdeka, Sus. Xixixi.”

Aku tersenyum simpul mendengar penjelasan Mbak Naning yang menggebu. Nyatanya aku adalah babu dalam keluargaku sendiri.

“Totalnya jadi empat puluh enam ribu tiga ratus, Mbak.”

“Udah nggak usah kembali,” tutur Mbak Naning sambil mengulurkan selembar uang berwarna biru.”

“Woa, makasih banyak, Mbak!”

“Kalau kamu tertarik mau kerja di kota juga, kabari aku ya. Nomor WA-ku masih sama.”

“Pingin sih, Mbak, tapi aku kayaknya nggak bisa kalau jauh sama Mas Trisno. Hehehe.”

“Aduhh, bocil hari gini udah pacar-pacaran aja. Masih muda tu kerja kerja kerjaaa,” ucap Mbak Naning sambil terkekeh.

Aku sendiri manyun karena dulu Mbak Naning terkenal sebagai kembang desa yang punya banyak pacar.

“Eh, emang orang tuanya Trisno setuju ya kalian pacaran?” tanya Mbak Naning tiba-tiba.

“Belum sih Mbak, kami masih pacaran diam-diam. Tapi kan biasanya keluarga bakal menerima apapun pilihan kita walaupun mereka menolak keras di awalnya. Seberbeda apapun keluarga kami berdua, jika aku dan Mas Trisno tetap kuat pondasinya, mereka bakal mengerti dengan sendirinya dan merestui kami.”

“Iya deh, iya. Terserah kamu, Sus. Susah ngomong sama orang yang lagi jatuh cintrong, e’ek lancung juga kelihatan kayak coklat. Aku pamit dulu, roti tawarnya mau dipakai.”

Mbak Naning berlalu di pertigaan gang dengan menenteng plastik kresek belanjaannya tadi.

Tidak tahu kenapa rasa ingin mendapatkan banyak uang dan segera melunasi hutang Ibu begitu besar. Apakah aku harus ikut Mbak Naning bekerja di kota sepertinya?

*

Kulangkahkan kaki dengan malas menuju gubuk reyot milik nenek yang kami sebut sebagai rumah.

Di tempat berdindingkan kayu dan atap seng yang sudah mempunyai banyak lubang dan sering bocor ketika hujan itulah kami bertiga berteduh.
Aku, Ibu dan nenek.

Ayahku? Tidak tahu dimana. Entah aku punya ayah atau tidak juga Ibu tak pernah cerita. Nenek juga tidak pernah membahasnya.

Harta Berharga Majikan Bab 1 : Gelay

“Dasar anak durhaka! Melipir kemana saja sampai sore begini baru pulang, hah?! Belikan rokok untukku!” teriak Ibu sedetik setelah aku membuka pintu.

Jika surgaku tidak ada dibawah telapak kakinya dan aku tega meninggalkan nenek, sudah lama aku minggat dari sini.

“Bu, kurangi lah merokoknya. Buat makan aja nggak ada. Mending uangnya untuk beli tahu.”

“Oo, sudah pintar jawab kamu ya! Dengar ya, anak durhaka, aku mengandung sembilan bulan, melahirkanmu ke dunia dengan taruhan nyawa serta merawatmu hingga sebesar ini. Kamu berani melawanku, hah?!”

Ingin sekali kujawab kata-kata favorit Ibu itu dengan jawaban versiku, ‘Aku tidak pernah minta dilahirkan oleh Ibu.’

Tapi apa daya? Aku hanya bisa diam supaya tidak menjadi anak durhaka.

“Punya anak kok ya nggak berguna. Dimintai uang aja pelitnya minta ampun. Enak banget jadi Yu Tuminah kali ya. Naning punya banyak uang dan bisa nyenengin ibunya. Bukan sepertimu, anak durhaka!”

“Sudah, Nur, sudah. Nggak capek apa kamu marahin Susi melulu?” ucap nenek membelaku.

Kadang aku heran, sebenarnya siapa ibuku.

“Oh ya aku baru ingat, kata Yu Tuminah, Naning lagi nyari orang buat kerja di kota. Kamu ikut aja, Sus, daripada kerja di toko Bu Haji yang pelit itu.”

“Susi takut, Bu.”

“Takut apa sih? Dasar penakut. Yu Tuminah bilang si Naning kerjanya cuma bersihin rumah aja tapi gajinya besar. Matamu merem ya Sus? Nggak lihat rumah Yu Tuminah sekarang udah tingkat begitu? Itu semua duit Naning yang kerja. Emangnya kamu. Tidak berguna. Lusa kamu ikut berangkat ke kota bersama Naning dan berikan uang yang banyak untuk orang yang sudah berjasa melahirkanmu ke dunia.”

“Ta-tapi, Bu–“

“Mau melawan ibumu dan dikutuk jadi batu?!”

*

Untuk menghindari menjadi anak durhaka, akhirnya aku manut apa kata Ibu.

Aku ikut bersama Naning untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kota.

Meski Naning sudah meyakinkanku bahwa calon majikanku adalah orang yang baik dan rumah majikan kami bersebelahan, tapi aku masih tetap takut.

Sepanjang hidupku belum pernah pergi jauh dari nenek dan Ibu.
Apakah aku bisa betah?
Apalagi harus berpisah dengan Mas Trisno.

Kemarin sebelum berangkat ke kota, aku dan kekasihku itu bertemu. Kami berdua sudah berjanji untuk saling setia. Meski tidak akan berjumpa dalam waktu yang lama, tapi Mas Trisno sudah terpatri dalam hatiku.

“Sus, nanti kamu kerjanya bersih-bersih aja. Di rumah itu ada 3 orang, Tuan, Nyonya sama satu anaknya. Harus betah ya, biar segera bisa lunasi hutang ibumu sama Mbok Jem si rentenir tak berakhlak itu.”

“Iya, Mbak.”

Siang nanti Mbak Naning akan mengantarku ke rumah sebelah. Saat ini aku sedang berada di rumah majikan Mbak Naning, pasangan Opa-Oma yang telah pensiun dan sedang menikmati masa tua mereka.

Mbak Naning mengenalkanku pada Nyonya Merry yang kini adalah majikanku.

Setelah memelukku erat, Mbak Naning kemudian meninggalkanku sendiri.
Kulihat ia menerima sesuatu dari Nyonya Merry.

Setelah menunjukkan kamar tidurku, majikan perempuan berparas cantik dengan rambut sebahu berwana hitam pekat itu memberitahu apa saja pekerjaanku termasuk mengurus putrinya yang saat ini sudah kelas 5 SD.

Karena sebentar lagi anaknya akan pulang dari sekolah, Nyonya Merry memintaku masak untuk makan siang.

“Dua porsi saja ya, Mbak. Buat kamu dan Stella. Saya akan pergi lagi setelah dia pulang.”

“Baik, Nyonya.”

Aku diminta masak sup dan menggoreng ayam yang sudah siap saji serta menanak nasi.

Kuharap anak majikanku yang bernama Stella itu akan suka dengan sup yang telah ku masak ini.

Terdengar pintu depan dibuka dan seperti ada suara barang dilemparkan ke sofa. Mungkin itu tas sekolahnya.

Bocah bertubuh tinggi dengan rambut panjang yang diikat itu langsung menuju meja makan dan membuka tudung saji.

“Stella, kenalin, ini Mbak Susi. Baru aja datang tadi. Itu Mbak Susi yang udah masak buat kamu. Kalian makan berdua ya. Mami mau pergi lagi.”

“Iihh … masakan apa sih ini? Nggak mau, nggak suka, gelay!” seru Stella dengan raut muka yang sangat menyebalkan.

“Ya udah, kamu mau makan apa? Pesen aja ya?” tanya Nyonya Merry.

“Mau makan pizza!”

“Oke mami pesenin, tapi janji dimakan ya?”

“Yaa,” jawab Stella enteng.

“Mbak Susi, itu dimakan aja ya,” ucap majikanku lembut. Aku hanya mengangguk mengiyakan.

Aghhh, sepertinya Stella adalah harta berharga bagi majikanku.
Sedangkan aku? Apakah sedikit saja aku berharga dimata Ibu?

Harta Berharga Majikan Bab 1 : Gelay