aandzee.id – Harta Berharga Majikan Bab 2 : Dahlah Males

“Sus, kamu punya pacar?” tanya Nyonya Merry tiba-tiba.

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

Aku sedang membersihkan dapur yang sangat berantakan.

“Em, saya … umm,” jawabku kikuk. Kenapa juga majikanku itu bertanya hal itu.

“Nggak apa-apa, ngaku aja kalau ada. Nanti kalau nggak diakuin, diambil orang lho.”

Nyonya Merry mengambil sebatang rokok, menyalakan api, menikmatinya dengan lezat dan menghembuskan asap menyebalkan itu ke udara.

Sial, aku benci sekali asap rokok. Hal itu selalu mengingatkanku pada Ibu yang menghabiskan dua bungkus rokok isi 12 dalam tiga hari.

“Eh, iya, ada, Nyonya,” ucapku malu.

“Dimana pacar kamu?”

“Di desa, Nyonya.”

“Beneran ya di desa, bukan di area sini. Saya nggak mau melarang kamu pacaran atau semacamnya. Hanya saja saya nggak mau nanti kamu tiba-tiba minta pulang dengan alasan mau lamaran dan nggak balik kesini lagi.”

“Saya masih lama untuk ke tahap itu, Nyonya.”

“Benarkah? Saya kira kebanyakan pada nikah muda. Sama seperti embak yang bantuin disini sebelumnya. Kamu tahu nggak? Dia berani-beraninya bawa cowok kesini. Lalu kabur sama pacarnya itu.”

“Wah, masa, Nyonya?”

“Kejadiannya belum lama ini. Tepatnya dua bulan lalu. Jadi saya sulit sekali percaya sama orang.”

“Oh, memangnya embak sebelumnya nggak betah kah?”

“Mana saya tahu. Dia kabur aja pagi-pagi sama pacarnya itu. Sebelumnya ada yang kerja disini juga. Ibu-ibu seumuran Mama saya. Tapi attitude-nya nggak banget. Saya pecat dia setelah seminggu kerja.”

Aku menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Sebenarnya ada apa dengan rumah ini dan beberapa pekerja yang tidak bertahan lama bekerja?

“Jadi yang terakhir kerja disini yang mana, Nyonya?”

Aku memberanikan diri bertanya lebih lanjut lagi karena kelihatannya majikanku ini orangnya baik dan suka mengobrol.

“Lain lagi.”

Buset, aku tidak bisa membayangkan sudah berapa kali Nyonya Merry gonta-ganti pembantu.

“Kamu kerjanya santai aja ya, Mbak. Saya tuh orangnya nggak galak apalagi rewel lho. Tapi nggak tahu kenapa pada nggak betah disini. Tugas paling penting adalah rapikan kamar saya dan baju cepat dicuci dan balikin ke lemari. Nggak perlu masak buat saya dan Beni. Paling bikinin makanan aja buat si bocah tengil itu,” ucap Nyonya Merry sambil menghisap rokoknya dan segera mematikan benda yang membuat candu itu saat terdengar suara laki-laki dari lantai atas memanggil namanya.

“Saya ke kamar dulu ya, Mbak.”

“Iya, Nyonya.”

Sambil melanjutkan pekerjaan, pikiranku berkeliaran jauh.
Apakah yang di maksud sebagai bocah tengil adalah Stella?
Tapi masa iya? Bagaimana seorang Ibu menganggap putrinya sendiri sebagai bocah tengil?

Harta Berharga Majikan Bab 2 : Dahlah Males

Agghh … tentu saja ada!
Bahkan ibuku sendiri selalu saja memanggilku anak durhaka.
Tapi bisakah aku memanggilnya sebagai Ibu durjana?

Kudengar langkah kaki seseorang memasuki dapur lagi. Itu Nyonya Merry.
Dia membuka kulkas dan mengambil beberapa buah apel hijau.

Memotongnya sendiri dan menyiapkan blender untuk membuat jus.

“Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?”

“Nggak usah, Mbak, biar saya aja.”

*ting, tung … permisi, GoMakan!

Beberapa kali kudengar seperti suara orang yang berteriak di depan pagar. Tapi aku tidak yakin dia menunjuk rumah ini.

“Mbak Susi, itu ada sarapan kita. Minta uangnya ke Beni ya di kamar,” kata Nyonya Merry yanh masih fokus mengiris apel.

“Baik, Nyonya.”

Aku menaiki anak tangga dan langsung bisa tahu mana kamar utama, karena pintu kamar satunya tertempel banyak stiker yang kucurigai adalah kamar si bocah tengil itu.
Ups, maksudku kamar anak majikan, si Stella.

Setelah mengetuk pintu yang tidak tertutup rapat itu, betapa kagetnya aku melihat kamar utama ini sangat berantakan. Baju-baju berserakan di lantai, gelas, mangkok, bungkus snacks dan banyak lagi.
Ini tidak terlihat seperti kamar. Tapi kapal pecyah.

“Permisi …” seruku saat tak kulihat ada Tuan Beni di kamar.

Aku makin kaget saat sesosok makhluk menyibakkan bedcover dan beranjak bangun dengan malas. Mulutku sampai tidak bisa berkata apa-apa.

‘Apakah manusia itu bisa berbahasa Indonesia?’

“Morning, Mister, eh, itu Nyonya minta money, uang for bayar food,” ucapku terbata sambil menggerakkan jari sebagai isyarat meminta uang padanya.

“How much?” jawabnya.

Sial, aku jawab apa lagi sekarang.

“Aa … I don’t know,” balasku kikuk.

“Nahh …” ucapnya sambil memberikan 3 lembar uang kertas berwarna merah.

Setelah menerimanya, aku langsung melipir pergi dan cepat sekali menuruni tangga.

Apa tadi yang kulihat adalah bule ya?
Jadi suami dari Nyonya Merry bukan orang Indonesia?

Pantas saja Stella seperti memiliki wajah blasteran.

Aku menghampiri Nyonya Merry di dapur dan menyerahkan uang itu padanya.

“Tolong bayarin ke abangnya Mbak. Kasih tips 20 ribu,” perintah majikanku.

“Baik, Nyonya.”

Kubayar makanan sesuai nominal dan tambahan tips seperti pesan majikanku barusan.

“Kembaliannya taruh mana, Nyonya?”

“Taruh aja di toples kecil itu,” ucap Nyonya Merry sambil matanya memberi isyarat supaya aku menaruh uang kembalian tadi ditempatnya.

Kulihat dua gelas jus apel hijau segar sudah siap.
Nyonya Merry memintaku membawakan paperbag berisi makanan yang dipesan tadi ke kamarnya.

“Tunggu Mbak, jangan pergi dulu. Ini donat sama kopi buat kamu. Makan dulu ya.”

Aku menerima bungkusan makanan dan kopi panas dalam cup dari merk berwarna hijau yang terkenal itu.
Aih, baik banget majikanku.

Saat berada di dapur dan sedang mulai menggigit donat berlapis cokelat ke mulut, tiba-tiba aku terhenti.

Apakah di rumah nenek sudah makan? Apa ada beras hari ini? Kuingat stok mie instant masih tersisa dua bungkus saat aku pergi.

Bagaimana kalau nenek terpaksa puasa lagi karena tidak ada makanan untuknya dan uang gajiku telah Ibu habiskan untuk membeli rokok terkutuk itu?

Tanpa terasa air mata ini menetes dengan derasnya bersamaan dengan perut yang juga berbunyi. Aku mengunyah roti manis itu sambil sesenggukan.

“Mbakkk … mau susu!” teriak Stella yang sukses membuyarkan tangisanku dan reflek kuusap pipi yang basah.

“Susu apa?” tanyaku tidak tahu.

“Hiiihh … susu buat diminum lah. Emang buat apa lagi?!”

“Iya, maksudnya yang mana?”

“Dahlah males. Aku ambil sendiri aja,” sungut Stella sambil membuka pintu kulkas.

“Gelas!” serunya angkuh.

Harrgghh, menyebalkan. Benar kata Nyonya Merry, bocah ini tengil sekali.

“Nggak mau, nggak suka gelas itu! Aku maunya cup yang stroberi.”

Aghh … cup stroberi mana yang dia maksud? Belum genap satu hari aku berada disini, bagaimana aku bisa tahu apa yang dia mau?!

“Iya, tapi yang mana? Mbak Susi nggak tahu?”

“Ihh, sebelll, apa-apa nggak tahu. Apa-apa nggak tahu. Capek deh!”

Bocah berkulit putih itu melangkah ke area cucian piring dan mengambil asal gelas yang ada.

“Oh iya, cup stroberi masih ada di kamarku,” ucapnya tanpa merasa berdosa.

Setelah menuangkan susu ke dalam gelas, Stella kembali ke atas.

Sekarang akhir pekan, jadi dia tidak sekolah.

Huh, malang sekali nasibku ini. Di rumah harus mengahadapi Ibu yang bawel. Disini ketemu sama anak majikan yang manja dan rewel.

Aku nggak mau kerja!
Mau nikah aja. Hiks, hiks ….

*

“Mbak Susi, kami pergi dulu ya. Tolong beresin kamar saya dan cuci baju kotornya di tempat yang udah saya kasih tahu kemarin. Kalau ada apa-apa, telpon saya,” ucap Nyonya Merry yang sudah siap berangkat dengan suaminya.

“Baik, Nyonya.”

Mister Beni itu sudah melipir masuk ke dalam mobil saat aku membuka pintu gerbang depan.

Setelah kututup rapat pintu, aku segera menuju ke atas untuk membereskan kapal pecah tadi.

Uhh, benar-benar mengerikan. Berapa lama tidak ada pembantu di rumah ini hingga kamar yang besar begini pun seperti sangat sesak dengan semua kekacauan yang ada.

Piring, gelas, baju kotor, hingga celana dalam hingga BH semuanya tersebar di seluruh penjuru ruangan kamar.

Apakah mereka tidak bisa menaruh baju kotor pada tempatnya?
Oh, aku lupa. Orang kaya mah bebas ya.

Kutarik bedcover dan menaruh bantal-bantal di atas sofa. Spreinya juga sangat berantakan. Kutemukan BH diantara bantal dan guling.
Hal ini benar-benar membuat pikiranku ternoda.

Setelah merapikan kasur dan mengumpulkan barang-barang kotor menjadi satu, aku mulai membersihkan kamar ini dengan menggunakan vacuum cleaner agar butiran debu tersedot dengan sempurna, lalu mengepel lantainya.

Aku tidak tahu apa yang Stella lakukan di kamarnya.

Aneh juga kenapa saat Nyonya Merry dan Mister Beni pergi tadi, Stella tidak diajak serta.
Atau mungkin mereka ada urusan lain dan tidak mau si bocah tengil itu mengganggu mereka.

Menuju ruang laundry atau tempat mencuci dan menjemur baju, kulihat tumpukan baju kotor sudah mirip seperti gunung Sindoro-Sumbing saking banyaknya.

Kemarin Nyonya Merry sudah mengajariku bagaimana cara menggunakan mesin ini untuk mencuci baju. Jadi sekarang aku hanya tinggal praktek saja.

Aku memisahkan kelompok pakaian berdasarkan warna dan tebal tipisnya.
Baju-baju yang tebal akan aku cuci paling terakhir.

Saat kurogoh saku baju dan celana, beberapa kali aku menemukan uang di dalamnya. Tidak main-main, beberapa lembarnya berwana merah dan biru meski ada juga yang berwarna hijau, cokelat dan ungu.

Menemukan uang dalam saku seperti ini bagai mendapat harta yang berharga. Kalau aku kumpulkan, pasti banyak sekali.

Tapi bisa jadi Nyonya Merry sedang mengetesku.
Kalau uang ini aku simpan sendiri, bisa-bisa dia berubah dan tidak bersikap baik lagi padaku.
Lagipula, uang ini juga tidak akan menbuatku cepat kaya meski aku ambil semuanya.

Ah sudahlah. Nanti aku kembalikan pada majikanku saja.

*brruugghhhh ….

“Cuciin!” seru Stella sambil melemparkan baju seragam sekolahnya ke tempukan baju kotor kloter empat yang sedang antri untuk dicuci.

“Baik, Nona …” kataku sambil mengulas senyum yang sangat manis meski sebenarnya diatas kepalaku sudah berkobar api yang membara.

Bocah tengil itu pergi begitu saja dan masuk kembali ke dalam kamarnya.

Aku menggerutu sendiri.
Kenapa Mbak Naning tidak cerita kalau di rumah ini ada bocah yang perlu di ruqiyah biar aura tengilnya musnah.

‘Sabar ya, Sus! Orang sabar pasti kesel. Hahaha’

Harta Berharga Majikan Bab 2 : Dahlah Males