Harta Warisan untuk Orang Lain

Harta Warisan untuk Orang Lain

Dalam sebuah ruangan di kantor pengacara, dua orang sedang duduk dan tengah menunggu seseorang.

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

“Mbok pasti tahu kan, Aku adalah anak Mama satu-satunya dan Mama nggak punya saudara lain disini. Jadi semua harta warisan Mama pasti akan jadi milikku,” ucap Romeo dengan penuh percaya diri.

“Iya, Den,” jawab Mbok Yem lirih.

Beberapa saat kemudian, seorang pria dengan pakaian jas lengkap memasuki ruangan dan menyapa keduanya.

“Maaf sudah menunggu lama, terimakasih atas kehadirannya.”

“Pak Firman, ayo cepat bacakan isi surat wasiat Mama, Aku sudah nggak sabar lagi untuk menjual beberapa aset Mama dan menerima seluruh uangnya!” Romeo sangat antusias untuk mendengar isi surat dari Ibu Diana, Mama kandungnya.

“Baik, Saya akan membacakan semuanya.”

Pak Firman membuka sebuah map yang berisi surat wasiat dan mulai membacanya.
Isi surat itu berbunyi :

• Saya, Diana Rosa Margareta yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa seluruh aset dan harta yang Saya miliki untuk diwariskan kepada Mbok Yem Mariyem.

Saya menulis surat wasiat ini dengan penuh kesadaran dan tanpa tekanan dari pihak manapun.

Demikian surat wasiat ini agar dibacakan satu Minggu setelah kepergian Saya.

Untuk Romeo, anak Saya satu-satunya, dia akan mendapatkan rumah keluarga. •

Tertanda, Diana Rosa Margareta.

“Apa?! tidak mungkin! ini pasti bohong! ini semua akal-akalan kalian untuk merebut harta Mama, kan?! teriak Romeo tidak terima.

“Mohon maaf, Pak Romeo, tapi surat wasiat ini valid dan mempunyai payung hukum.” Dengan tenang, Pak Firman menjawab apa yang dikatakan oleh Romeo.

“Mbok Yem, katakan padaku kapan terakhir kali Mbok Yem ketemu sama Mama dan ceritakan semuanya!”

“Mb-ooo-kk Yem selalu bersama Ibu, Den, sampai beliau wafat,” jawab Mbok Yem agak ketakutan.

Flashback (Kilas balik) 2 Minggu sebelumnya

Hari itu adalah tanggal kelahiran Ibu Diana, Mbok Yem yang selama 3 tahun ini bekerja dengan keluarga Bu Diana ingin memberikan kejutan dengan membawakan sebuah kue ulang tahun ke kamar majikannya.
Sejak empat bulan lalu, Bu Diana didiagnosis menderita sebuah penyakit yang cukup parah dan menerima pengobatan khusus di kamarnya dikarenakan Bu Diana tetap ingin berada di rumah itu.

Suami Bu Diana telah lebih dulu pergi dua tahun yang lalu, Bu Diana juga seorang yatim piatu dan tidak mempunyai saudara begitupun suaminya yang seorang pengusaha sukses.
Mereka dikaruniai seorang putra bernama Romeo.
Semenjak melanjutkan pendidikanna keluar negeri dan lulus kuliah, Romeo sudah jarang pulang ke rumah.

Bahkan selama Bu Diana sakit pun, putranya tidak pernah menjenguknya. Romeo sesekali pulang hanya untuk meminta uang dan uang.

“Selamat ulang tahun, Bu Diana,” ucap Mbok Yem ketika membuka pintu kamar.

“Uhuk, uhuk… Mbok Yem, ingat tanggal lahir Saya? uhuk… uhuk….”

“Iya, Bu, Mbok selalu ingat ulang tahun Bu Diana, karena hari itu selalu membuat Mbok Yem mengingat akan kebaikan Ibu untuk keluarga Mbok.”

“Terimakasih, Mbok Yem, Mbok selalu perhatian sama Saya, sejak suami Saya pergi, Saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi, Saya tidak punya saudara, bahkan Romeo tidak pernah pulang kesini untuk sekedar menemui Saya, Mbok, hiks, hiks… uhuk, uhuk.” Bu Diana menahan tangis sambil terus batuk.

“Mbok Yem kan ada disini bersama Ibu, Bu Diana jangan bersedih, Den Romeo pasti nanti akan datang dan menemui Ibu. Selain itu, Bu, saudara tidak harus dengan ikatan darah. Ibu sudah Mbok anggap seperti saudara sendiri.” Mbok Yem mencoba menenangkan Bu Diana yang menangis sesenggukan merindukan putra satu-satunya.

“Benar, Mbok, saudara tidak harus karena ikatan darah.”

“Halo, Ma, selamat ulang tahun!” suara Romeo membuyarkan suasana.

“Romeo, Nak, kamu pulang?” ucap Bu Diana tidak percaya.

“Um, iya, Ma, ini kan hari ulang tahun Mama. Ohya, Ma, Romeo mau tanya sesuatu jika Mama nggak keberatan.”

“Tentu saja tidak, sayangku, bicaralah.”

“Sebagai anak Mama satu-satunya dan tidak ada saudara sedarah lainnya, maka seluruh harta warisan Mama akan otomatis jatuh ke tanganku, kan, Ma?”

“Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu, Nak? Mama masih hidup dan kamu sudah menanyakan warisan dibandingkan menanyakan keadaan Mama dan bagaimana Mama menjalani hari-hari tanpa Papamu dan juga tanpa kamu disisi Mama? uhuk, uhuk….”

Bu Diana terlihat sangat marah dengan apa yang dibicarakan oleh anaknya namun mencoba tetap tenang karena Mbok Yem masih ada disampingnya.

“Ya, Aku cuma mau memastikan aja, Ma, kalau sampai ada apa-apa sama Mama, setidaknya Aku tidak usah report lagi nanti.”

“Iya, Nak, tentu saja. Malam ini kamu menginap ya, Nak? Mama kangen sekali.”

“Ini Aku harus langsung pergi, Ma, Aku nggak bisa lama-lama disini. ‘Happy Birthday, Mom’ (Selamat Ulang Tahun, Ma).”

Romeo pergi meninggalkan kamar Ibunya begitu saja. Bu Diana tidak berhenti mengeluarkan airmata dan terbatuk-batuk menahan sesuatu yang menusuknya di dalam relung jiwa.

“Lihat, Mbok, bahkan anak kandung Saya saja memperlakukan Saya seperti itu, namun Mbok Yem selalu ada disini. Romeo hanya pulang jika ingin minta uang, dan kini, melihat Mamanya dalam kondisi seperti ini, dia menanyakan tentang warisan? apa dia berharap Saya segera mati, Mbok? hiks, hiks….”

“Jangan bicara seperti itu, Bu,” hibur Mbok Yem sambil mengelus tangan Bu Diana.

“Seandainya semua orangtua yang kesepian, mempunyai teman seperti Mbok Yem, pasti mereka akan mati dengan tenang.”

Keesokan harinya, Bu Diana memanggil Pak Firman untuk datang menemuinya. Dia juga mengenalkan Mbok Yem pada Pak Firman sebagai saudaranya.

Penyakit Bu Diana semakin parah, Romeo tidak pernah datang lagi ke rumah untuk sekedar menemui Ibunya yang sedang sakit. Tepat satu minggu setelah ulang tahunnya, Bu Diana menghembuskan nafas terakhirnya ditemani oleh Mbok Yem.

Di kantor Pak Firman

“Bohong! kalian pasti bohong! Aku membutuhkan uang itu sekarang juga! Arrgghhh!!!” Romeo sangat marah, dia menendangi kursi dan berlalu pergi.

“Baik, Mbok Yem, kita perlu bicara mengenai banyak hal,” kata Pak Firman setelah Romeo meninggalkan ruangan.

Mbok Yem seperti tidak percaya dengan apa yang terjadi sekarang, mendapatkan harta warisan serta berbagai aset yang begitu besar, tidak pernah ia bayangkan sebelumnya karena niat awal Mbok Yem adalah untuk bekerja dengan sungguh-sungguh dan memperlakukan Bu Diana seperti saudaranya sendiri.

“Bapak Firman, pertama-tama Simbok ingin menggunakan uang itu untuk membangun sebuah Yayasan atau Rumah Sakit khusus orangtua atas nama Bu Diana, supaya para orangtua tidak kesepian di masa tuanya bila harus berpisah dengan anak yang telah tumbuh dewasa dan mulai memiliki keluarga mereka sendiri.”

“Baik, Mbok Yem, kami akan segera melakukannya,” jawab Pak Firman ramah.

Yayasan dan Rumah Sakit khusus lansia telah berdiri dan diberi nama “Diana Rosa Margareta” sebagai penyumbang dana terbesar.
Mbok Yem juga tinggal di sana dan kerap menemui para lansia yang ada di dalamnya.

Rumah Sakit itu juga mewajibkan kepada para anak-anak dari orangtua yang tinggal atau dirawat di Rumah Sakit Diana Rosa Margareta untuk menjenguk orangtuanya minimal satu Minggu sekali. Jika tidak, pihak Rumah Sakit akan memberlakukan denda kepada orang yang melanggarnya.
Hal itu adalah supaya tidak ada lagi orangtua yang kesepian dan tidak ditengok oleh anaknya seperti hari-hari terakhir Ibu Diana.

Harta Warisan untuk Orang Lain yang menjadi orang terdekat.


Ditulis oleh Aandzee >,• dengan judul Harta Warisan untuk Orang Lain.