Kenapa Orang Dewasa Perlu Nonton Upin Ipin?

Kenapa Orang Dewasa Perlu Nonton Upin Ipin?


Betul, betul, betul!
Dua seringgit!
Saya suka, suya suka!
Akak!

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

Kalimat diatas tentunya sudah tidak asing lagi terdengar di berbagai episode kartun yang berasal dari negara tetangga kita, Malaysia.
Kartun Upin Ipin identik sebagai tontonan anak-anak. Meskipun sudah di putar beberapa kali, tidak jarang salah satu episodenya ditayangkan lagi sehingga para penonton sudah hafal. Namun hal itu tidak membuat anak-anak bosan untuk tetap menontonnya.
Salah satunya adalah keponakanku.

Beberapa waktu yang lalu, kakakku menitipkan anaknya kepadaku karena dia ada acara pertemuan wali murid di sekolah anaknya.
Bocah yang masih berusia 5 tahun itu sangat suka menonton Upin Ipin dan tentu saja, aku turut menemaninya menyaksikan kartun si kembar yang gundul itu.

Sebagai seseorang yang sudah dewasa (bukan usia remaja atau anak-anak lagi), tentu saja aku lebih memilih menonton drama Korea dibandingkan menonton tayangkan untuk anak TK.
Tapi dari situlah aku belajar sesuatu.
Bahwa tontonan untuk anak-anak ternyata cocok dan perlu juga disaksikan oleh para orang tua dan orang dewasa.

Banyak pelajaran yang aku ambil dari menonton kartun si kembar yang hidup dengan sang nenek yang biasa mereka panggil Opah dan juga kakak perempuannya yang cantik namun super galak, Kak Ros.

Sebenarnya alur cerita Upin Ipin cukup sederhana. Mulai dari aktifitas di sekolah Tadika Mesra, di rumah Upin Ipin, cerita kehidupan sehari-hari bersama kawan-kawan dan tentunya kebahagiaan masa kanak-kanak yang mungkin kita sebagai orang dewasa kini, sempat merasakan masa kecil bermain bersama teman tanpa adanya gangguan ‘gadget’ di tangan.

Tidak hanya itu, kartun Upin Ipin juga mengajarkan kita tentang pentingnya toleransi antar umat beragama dan perbedaan suku maupun ras di kampung Durian Runtuh.

Kenapa Orang Dewasa Perlu Nonton Upin Ipin? Karena selain memiliki tema sederhana, ternyata banyak juga pelajaran yang bisa diambil dari setiap episodenya.

Upin Ipin sebagai putra Malaysia berteman dengan Mei-Mei, gadis imut, lucu dan cantik yang memakai kacamata dan dari keturunan Tionghoa. Jarjit, si raja pantun yang merupakan keturunan India. Ada juga Susanti, yang diceritakan berasal dari Indonesia.

Tidak hanya anak-anak saja, tapi orang dewasa di kampung Durian Runtuh juga hidup damai dan tenteram meski perbedaan membentang.
Ada Tok Dalang sebagai orang Malaysia, Uncle Muthu, orang India pemilik warung dan ada juga Uncle Ah Tong yang adalah orang Cina.

Dalam beberapa episodenya juga terlihat Upin Ipin bersama teman-temannya saling merayakan Hari Besar antar umat. Saat Lebaran atau Hari Raya Islam, Mei-Mei datang ke rumah Upin Ipin begitu juga saat Imlek atau Tahun Baru Cina. Pun saat Deepavali atau Diwali, Upin Ipin juga turut berbaur bersama Jarjit dan Devi.
Betapa perbedaan tidak menghalangi mereka untuk tetap bersama.

Ohya, pada episode yang berjudul ‘Bulan Hantu’, Mei-Mei memberitahu beberapa hal pada Upin-Ipin tentang tradisi itu, juga saat bocah cantik nan menggemaskan itu memakan makanan yang terlihat seperti sate (sate daging Babi?) dan Upin Ipin ingin menikmati makanan itu juga, Mei-Mei dengan bijak memberitahu si kembar bahwa makanan itu tidak boleh dimakan oleh Upin Ipin karena mereka Muslim.

Tidak hanya toleransi dan keberagaman yang menyatu, aku juga menyukai setiap karakter dalam kartun itu.
Tokoh favoritku adalah Kak Ros dan Mail Ismail.
Meskipun terlihat galak, kakak perempuan si kembar itu adalah sosok yang peduli dan penyayang. Mail sendiri adalah pribadi pekerja keras, masih sekecil itu saja, dia selalu membantu ibunya berjualan dan slogan “dua seringgit” dari Mail benar-benar membuatku semakin menyukai keseluruhan kartun itu.

Setiap karakter memiliki ciri khas masing-masing yang membuat kartun itu tidak hanya menceritakan tentang dua bocah kembar yang gundul, tapi banyak hal dieksplor dan menjadi tontonan yang perlu di tonton oleh orang dewasa dan para orang tua.
Beberapa episode dari kartun ini juga ada yang mengaji serta bernyanyi.

Sebagai orang yang sudah tidak lagi anak-anak, aku tidak malu untuk mengaku bahwa aku suka nonton kartun Upin-Ipin dan berharap para orang tua dan orang dewasa lainnya di luar sana juga menonton tayangan ini karena sarat akan pelajaran yang dapat diambil dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.