Lakukan ini untuk Merubah Kebiasaan Buruk dan Jelekmu! Sebenarnya apa yang membuat orang sering melakukan kebiasaan buruk atau sering bermalas-malasan? Umumnya karena ada nya distraction/gangguan yang membuat kita lari ke distraction tersebut. Semisal kita sedang mulai bekerja selama 30 menit kemudian sudah mulai suntuk, lalu ada distraction berupa notif dari grup WA dan akhirnya lari untuk membalas grup WA hingga ber jam-jam lamanya. Kebanyakan Distraction bukan terpicu dari faktor eksternal melainkan disebabkan oleh faktor internal diri sendiri. Bukan notifikasi dari grup WA itu yang menjadi penyebabnya kamu teralihkan dari pekerjaanmu akan tetapi berasal dari dirimu sendiri yang mencari pelarian dari suntukmu di pekerjaan.

Pertama, kita harus mengerti prinsip dasar dari pertanyaan, “Mengapa kita mau mengerjakan berbagai hal?” “Apa yang menyebabkan manusia bisa termotivasi mengerjakan berbagai hal?” dan saat kita memikirikan jawaban dari pertanyaan tersebut, banyak orang akan memberi kita jawaban seperti reward and punishment. Kita melakukan ini agar mendapatkan reward, kita melakukan ini agar tidak terkena punishment, dan sebagainya.

Apakah ini adalah tentang mengejar kesenangan dan lari dari perasaan tidak enak seperti suntuk, bosan, dan lain sebagainya? Itu tidak benar. Kita berbuat seperti demikian bukan semata hanya untuk mengejar kesenangan, namun kita sedang lari dari perasaan tidak nyaman dalam diri. Saat kita kedinginan, kita tidak nyaman akan rasa dingin, lalu kita lari dari perasaan tidak nyaman tersebut dan mengambil jaket. Kemudian saat masuk ke dalam rumah dengan jaket, kita merasa panas dan sumuk, kita merasa tidak nyaman, lalu kita melepas jaket kita.

Secara psikologi kita selalu melakukan hal seperti itu terus menerus, itu sering disebut dengan istilah “The Homeostatic Response” Itu hal alami yang direspon oleh tubuh kita. Saat kita kesepian, kita langsung buka WA, IG, FB. Saat kita sedang tidak yakin dengan informasi sesuatu, kita langsung mencari tau via Google. Saat kita sedang merasa bosen, kita langsung buka games dan memainkannya seharian. Itu semua adalah respon dari tubuh kita menghadapi ketidaknyamanan.

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

Jika semua kebiasaan manusia itu dipicu oleh keinginan lari dari perasaan tidak nyaman itu artinya bahwa Time-Management adalah Pain-Management dan inilah mengapa bahwa mengerti hal ini merupakan langkah awal yang sangat penting. Jika kita mengikuti semua seminar motivasi, mengikuti berbagai jenis pelatihan diri, namun jika kita belum faham akan hal dasar di atas, kita akan selalu terjebak untuk lari dari ketidaknyamanan saat muncul distraction. Kita perlu memahami hal ini terlebih dahulu agar bisa mengerti bagaimana mengakali atau memanfaatkan perasaan tidak nyaman saat perasaan tersebut muncul. Maka Lakukan ini untuk Merubah Kebiasaan Buruk dan Jelekmu terlebih dahulu.

Ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Timothy Wilson, Dia mengumpulkan satu persatu orang dalam suatu ruangan. Tidak ada apapun dalam ruangan tersebut, mereka diberitau hanya ada sebuah gelang yang terhubung dengan kabel dan terdapat sebuah tombol di ujung kabel tersebut, jika digunakan gelang tersebut dan ditekan tombolnya, dan pengguna akan tersetrum. Dan mereka perlu menghabiskan waktu selama setengah hari dalam ruangan tersebut. Menariknya ada sebanyak 60% Pria dan sekitar 20% Wanita yang menggunakan alat tersebut. Mereka tidak tahan akan perasaan tidak nyaman, kebosanan tidak melakukan apapun dan memilih bermain dengan alat tersebut walaupun sudah mengerti dampaknya. Itu semua adalah sikap alami yang dilakukan oleh tubuh kita.

Tubuh manusia memang di desain dengan perasaan yang terus menerus gelisah akan ketidaknyamanan, kita memiliki insting jika merasa bosan akan sesuatu, kita akan mencari sebuah pelarian, melakukan apapun yang bisa dilakukan, mencari sumber daya yang terbaik, melakukan inovasi dalam hidup dan itu bukan hal yang buruk, kita bisa memanfaatkan hal itu. Ini adalah energi yang sama yang kita gunakan untuk menciptakan berbagai teknologi, pengobatan yang mutakhir, dan menciptakan apapun dari energi yang sama diatas. Jadi jawabannya adalah tentang tidak menghindari perasaan tersebut, atau menghilangkannya, atau menjauhinya akan tetapi memanfaatkan hal tersebut menjadi daya tarik terhadap kita bukan lagi sebuah distraction atau gangguan.

Setelah kita mengetahui apa yang harus dilakukan, mengapa kita tidak langsung mempraktekannya? Apalagi di masa sekarang, dimana kita mencari tau informasi hanya sebatas menggerakkan jari saja. Kita tidak boleh mencari alasan bahwa kita tidak tau cara mempraktekannya, seperti kita tau bagaimana cara untuk diet menjadi kurus? Oke mungkin tidak secara detailnya, akan tetapi kamu tau agar kita tidak gendut kita perlu menghindari kue cokelat yang sangat manis, kita tau kita perlu menghindari makan cemilan secara terus menerus, dan mengganti nya dengan makanan yang lebih sehat? Siapa yang tidak tau akan hal itu? Kita tau harus Lakukan ini untuk Merubah Kebiasaan Buruk dan Jelekmu, tapi mengapa kita tidak bisa?

Kita juga tau agar kita bisa memiliki hubungan yang lebih baik ke sesama kita perlu bersama mereka, kita tau kalo ingin menghasilkan uang banyak kita harus bekerja lebih keras dibandingkan orang-orang yang lain terutama mengerjakan hal yang kebanyakan orang terlalu berat melakukannya, kita semua tau akan hal itu. Jadi tidak lagi ada alasan untuk tidak mengetahui caranya, ada Google disana untuk mencari tau segalanya. Kendala utamanya bukan tidak tau caranya, tapi tidak ada keinginan kuat untuk mempraktekannya, kurangnya kemampuan untuk menghindari distraction. Melakukan perubahan dalam hidup bukan saja tentang melakukan hal yang benar namun juga tentang menghindari melakukan hal yang salah!

Banyak dari kita sering melakukan kesalahan seperti ini saat bekerja, kita sering bilang bahwa kita punya banyak rencana, banyak keinginan, banyak target dan ingin menyelesaikan project yang besar dalam hidupnya, mereka akan berhenti menunda-nunda pekerjaan dan mulai mengerjakan yang telah direncanakan namun setelah mereka membuka notif grup WA, setelah membuka notif di IG dan FB, setelah berkumpul dengan teman-temannya, setelah 1-2 jam berlalu kita pun masih belum memulai apa yang ingin kita kerjakan. Ini sering disebut dengan istilah “Pseudo Work

Apapun bisa menjadi Distraction, namun buruknya ini bisa merusak diri kita saat kita sudah menjadi budak akan distraction tersebut, kita mengorbankan hal-hal penting dan besar dan urgent demi menuruti distraction tersebut ditambah teknologi sekarang di desain se menarik mungkin, mereka di desain agar penggunanya makin betah berjam-jam lamanya menggunakannya, membuat penggunanya ketagihan dan addicting, itu membuat semakin besar dan mengerikan distraction di sekitar kita.

Namun kalo kita berpikir sejenak, sebenarnya banyak hal yang bisa membuat orang-orang ketagihan akan tetapi banyak juga yang tidak ketagihan akan hal tersebut. Banyak orang yang ketagihan dengan rokok, namun juga banyak yang tidak ketagihan dengan rokok. Banyak orang yang ketagihan dengan alkohol, namun juga banyak yang tidak suka dengan alkohol. Banyak orang yang ketagihan dengan teknologi karena mereka merasa teknologi bisa menyembuhkan luka mereka, menghilangkan perasaan tidak nyaman untuk mereka.

Selain distraction, hal lain yang menyebabkan orang sering tidak berhasil adalah kita sering melakukan pelarangan yang ketat terhadap diri sendiri, kita sering berbicara pada diri kita. “Aku gak mau buka grup WA dlu saat kerja” “Aku tidak mau merokok lagi” “Aku tidak mau makan goreng-gorengan lagi” “Aku tidak mau ketagihan maen game online lagi” Umumnya pelarangan yang ketat terhadap diri sendiri seperti itu sering menjadi bumerang kepada diri sendiri juga dan sulit untuk menghindari kebiasaan buruk tersebut sepenuhnya.

Kita ingin menghindari makan banyak tapi apa kita bisa tidak makan seharian? Kita ingin menghindari buka grup WA tapi apa kita bisa tidak menggunakan WA untuk kerja atau untuk berkomunikasi dengan keluarga? Jika kita tidak membuka WA sama sekali, orang akan sulit berkomunikasi dengan kita, jika orang sulit berkomunikasi dengan kita, kita bisa kehilangan banyak sekali pekerjaan dari sana. Kita tidak bisa benar-benar meninggalkan hal-hal itu seketika, saat kita bilang “Tidak, tidak mau buka lagi” Itu seperti kita menarik karet gelang di tangan, saat kita tarik, tarik, kemudian tarik lalu karet gelang itu akan kembali mengenai tangan kita.

Itulah yang terjadi saat kita melakukan pelarangan yang keras terhadap diri sendiri, kita sering bilang ke diri sendiri “Jangan di buka” “Jangan di buka” “Jangan di buka”Oke aku buka sebentar aja” dan akhirnya kita kembali tenggelam dengan kebiasaan buruk tersebut. Baik saat kita lagi diet, “Aku gak mau makan cokelat lagi” “Aku gak mau makan cokelat lagi” “Aku gak mau makan cokelat lagi” Pas ada cokelat di depan kita “Oke aku nyoba sedikit aja deh cokelatnya” dan akhirnya kita pun kembali gagal untuk diet.

Ini juga alasan utama para perokok menjadi ketagihan dengan rokok, mereka tau rokok itu tidak sehat, mereka tau rokok itu asapnya menggangu, mereka tau rokok itu rasanya tidak begitu enak, mereka tau rokok itu menghabiskan banyak uang tapi mereka masih tetap ketagihan merokok. Efek kecanduan merokok tidak sepenuhnya karena efek kandungan nikotin. Yang membuat mereka ketagihan adalah saat mereka sering bilang ke diri sendiri “Jangan ngerokok lagi” “Jangan ngerokok lagi” “Jangan ngerokok lagi” “Oke ngerokok sebatang aja” saat dia mulai ngerokok dia seperti memuaskan batin akan perasaan yang sering mengucapkan ke diri untuk tidak merokok.

Jadi Melarang diri sendiri kebanyakan akan menjadi bumerang ke diri sendiri, karena ketika kita menyerah otak kita berpikir, “Ohh ketika saya tidak kuat untuk menahan diri tidak melakukan hal tersebut (Merokok, Makan Cokelat, dsb nya), ketika saya menyerah dan mulai mencobanya lagi itu rasanya menyenangkan sekali” Itu bukan karena perilaku itu sendiri yang menyenangkan akan tetapi karena itu membebaskan kita dari ketidaknyamanan mengatakan pada diri sendiri “Jangan Mencoba

Lakukan ini untuk Merubah Kebiasaan Buruk dan Jelekmu
“Surfing The Urge”

Daripada mengatakan “Jangan Mencoba” atau “Tidak” pada diri sendiri, kita bisa melakukan teknik 10 menit ini. Begini cara kerjanya : Kamu bisa berbicara ke diri sendiri dalam hati untuk bisa tunduk dengan semua distraction, entah itu membuka group WA saat kamu lagi mengerjakan pekerjaan, atau makan sepotong cokelat yang benar-benar kamu hindari. Kamu bisa membayangkan melakukan distraction itu selama 10 menit. Mendalami keinginan selama 10 menit itu sering disebut dengan istilah “Surfing The Urge” Saat datang perasaan ingin mencoba, kamu tau bahwa perasaan itu tidak muncul selamanya, Perasaan tersebut seperti ombak, di awal ombak itu akan pelan-pelan membesar, setelah membesar dia akan mengecil lalu menghilang. Jadi selama 10 menit itu kita akan berselancar sama ombak tersebut sampai ombak itu menghilang, biasanya saya akan mengambil handphone dan mengatur timer selama 10 menit di hape, lalu meletakkan kembali hape saya dan mulai membayangkan sedang melakukan keinginan tersebut, saya mulai berbicara ke diri sendiri seperti saya berbicara ke teman terdekat saya yang sedang bersedih.

Jadi saat kita sibuk untuk berbicara “Tidak” ke diri sendiri dan kita berusaha untuk tidak ter-distract, umumnya kita terbagi ke dalam dua golongan yaitu : The Blamers (Tukang Menyalahkan yang lain) dan The Shamers (Tukang Menyalahkan Diri Sendiri). Golongan “The Blamers” akan berkata “Ahh ini gara- gara Grup WA berisik terus” “Ini gara-gara notif IG” “Ini gara-gara Facebook” “Ini gara-gara Tiktok” dan lain sebagainya. Sedangkan untuk golongan “The Shamers” dia akan berkata “Duhh kenapa aku males banget ya” “Kenapa hidupku kayak gini terus ya” “Ada yang salah dengan diriku” Tentu dengan menyalahkan diri sendiri juga tidak membantu, mereka akan semakin mencari pelarian untuk mengobati rasa penyesalannya.

Jadi bagaimana mengatasinya? Jadi selama 10 menit anda hanya perlu merefleksikan diri akan sensasi-sensasi yang dirasakan seperti di atas, kita cukup menyerah terhadap distraction selama 10 menit hingga ombak yang besar itu mulai mengecil dan hilang. Ini adalah teknik yang luar biasa efektif dan sangat sederhana.

Baca Juga : Ubah Cara Pandangmu Maka Kau akan Mengubah Hidupmu


Lakukan ini untuk Merubah Kebiasaan Buruk dan Jelekmu! Manjur untuk Perokok dan Pemalas

Post navigation


Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!