Mama Muda Ramai Jadi Sound Tiktok
Mama Muda Ramai Jadi Sound Tiktok

Mama Muda Ramai Jadi Sound Tiktok


Akhir-akhir ini viral di TikTok lagu yang berjudul “Goyang Mama Muda”.
Mendengar dua anak kecil berusia sekitar 6 tahun menyanyikan lagu itu, aku cukup penasaran dan jiwa kepo-ku langsung meronta. Sebab mereka sangat hafal dan jelas sekali dalam mengucapkan setiap liriknya.

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

“Kalian nyanyi apa itu?” tanyaku pada mereka berdua.

“Ini lagu di TikTok, Kakak Aandzee,” jawab salah satu bocah itu.

“Iya, Kakak Aandzee nggak tau,” timpal bocah satunya.

“Itu lagu apaan? jangan nyanyi lagu itu lagi!” seruku memperingatkan.

Aku langsung membuka aplikasi berlatar warna hitam dan logo putih itu.
Fiuh, kutemukan ‘sounds’ atau suara yang kucari dan puluhan, bahkan ratusan video yang diiringi lagu tersebut.
Di TikTok, suara pelengkap video tidak panjang, jadi biasanya hanya ‘reff’nya saja yang tersedia.

Meski di beberapa video tidak menampilkan joged atau goyangan, tapi banyak sekali video orang berjoged diiringi dengan lagu itu.

“Pantas saja viral, banyak yang menggunakannya sih!” gerutuku dalam hati.

Aku kemudian berpindah ke Google untuk mencari tahu bagaimana lirik lagu itu.
Kutemukan lirik Mama Muda Ramai Jadi Sound Tiktok, kurang lebih seperti ini :

‘Aku suka body goyang mama muda’
‘Mama muda’
‘Da da da da da da da’
‘Mama muda’
‘Da da da da da da da’
‘Mama muda’
‘Janda anak dua’
‘Suka body mama muda’

“What the heck! gimana bocah 6 tahun begitu hafal lirik lagu seperti ini?” teriakku dalam hati.

Aku tidak setuju jika anak-anak yang masih polos itu menyanyikan lagu yang tidak mereka ketahui makna sebenarnya.
Bukannya aku tidak menghargai karya orang atau semacamnya, aku hanya tidak setuju para bocah yang masih kecil itu menyanyikan lagu dengan lirik begitu.

Hai para orangtua dan orang dewasa yang ada di sekeliling anak-anak terutama yang masih sangat belia, mari kita lebih perhatikan tontonan anak yaa ….
Jangan sampai karena kelalaian kita, mereka mengetahui banyak hal yang belum waktunya.

Anak kecil dalam ‘golden age’ atau usia emas, rasa ingin tahunya sangat tinggi sekali, mereka juga cenderung meniru apa yang mereka lihat dan saksikan di sekeliling mereka setiap hari.
Jadi, tontonan entah di televisi maupun di YouTube, masih sangat perlu dampingan serta pengawasan dari pihak orangtua.

Baik, aku mengerti jika orangtua memberi anaknya gadget sebagai cara supaya anak mau diam, misal saat sedang makan atau disuapi, maupun saat sang Bunda akan mengerjakan pekerjaan rumah dan anak bisa ditinggal mengerjakan itu semua saat mereka nonton TV atau bermain gadget.

Namun, tetap perlu batasi pemakaian gadget untuk anak usia dini yah … agar mereka juga tidak terlalu bergantung pada benda itu.

Perbanyak aktivitas bermain offline, apalagi sekarang kita lebih sering di rumah.
Banyak permainan jadul yang mungkin bisa dicoba, seperti main bekel, main boneka, masak-masakkan, main rumah-rumahan, bongkar pasang baju kertas dan lainnya.

Ya, itu memang permainan jadul yang dimainkan oleh anak-anak generasi 90-an dimana saat itu gadget belum semarak seperti sekarang ini, koneksi internetpun saat itu masih sangat minim sehingga dahulu kami, anak jaman old lebih sering bermain offline dibandingkan anak jaman now yang lebih banyak menghabiskan waktunya online.

Ayah, Bunda, Tante, Om, Mbak, Mas, Kakak … yukk kita ajak anak-anak bermain permainan jaman dulu supaya mereka menghabiskan waktu lebih sedikit dengan gadget.


Kakak Aandzee, penyanyang anak-anak. >,<