Membunuh Rekening Bank Sendiri

Membunuh Rekening Bank Sendiri

__________________________________

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

Sekitar dua belas bulan yang lalu, akhirnya aku mulai membuka rekening bank untuk yang pertama kalinya guna menyimpan sedikit uangku setelah sebelumnya aku lebih memilih untuk menyimpannya di dompet dan ku masukkan ke dalam lemari saja.

Aku sadar bahwa dengan semakin berkembangnya jaman, tidak hanya pembayaran belanja online saja yang akan menggunakan sistem ‘cashless’ atau non-tunai, namun bisa jadi di masa depan, uang kertas tidak akan berlaku lagi.

Aku tidak boleh ketinggalan jaman dan menjadi satu diantara orang lainnya yang tidak sadar akan hal ini dan tidak segera mulai mengikuti perkembangan yang makin maju setiap hari.

Karena untuk urusan bayar-membayar itulah, akhirnya aku memutuskan untuk membuat rekening atas namaku sendiri.

Di daerah tempat tinggalku yang masih termasuk sebuah desa, cabang bank terdekat adalah ‘Indonesia Rakyat Bank’ atau biasa disingkat sebagai IRB.

Dengan namanya yang menggunakan nama Rakyat dan juga nama Indonesia, aku yakin bank itu adalah bank yang dekat dengan rakyat dan memudahkan masyarakat untuk menabung maupun bertransaksi dengan lebih mudah dan nyaman lagi.

Biaya admin atau potongan bulanan bank itu juga terbilang tidak terlalu tinggi, kalau tidak salah ingat, sebesar 5500 rupiah setiap bulannya.

Kupikir, oke lah tidak apa-apa setiap bulannya di potong segitu karena aku juga memakai jasa bank itu untuk menyimpan sedikit uangku.

Aku masih jomblo dan belum ada yang bertanggung jawab menafkahi, jadi aku harus pintar-pintar berhemat sendiri.

Petugas bank menjelaskan banyak hal dan memintaku untuk tanda tangan, sebelum itu, aku memang membaca seluruh isi ‘form’ atau kertas lampiran yang harus aku tanda tangani.

Setelah membaca, faham dan mengerti, aku setuju lalu menandatangani kertas itu.

Untuk setoran pertama, minimal 100 ribu dengan minimal saldo yang harus ada di rekening sebanyak 50 ribu setiap bulannya.

Karena aku sudah punya rekening atas nana sendiri, jadi seuprit uangku yang ada di dompet dan ku simpan dalam lemari, aku setorkan ke rekeningku supaya lebih mudah untuk bertransaksi maupun jika suatu saat aku membutuhkan uang dan sedang berada di luar rumah, aku bisa dengan mudah mencari gerai ATM terdekat dan menarik uang yang ku perlukan.

Suatu hari, saat akan mengambil uang, aku lupa memasukkan pin sebanyak 3 kali yang membuat ATM-ku terblokir secara otomatis!

Jika tiga kali salah memasukkan pin, ATM memang akan di blokir. Saat itu aku benar-benar lupa, tanggal lahir ‘Jin oppa BTS’ atau ‘Kapten Amerika’ yang ku gunakan sebagai pin ATM ku itu, sebab mereka adalah cowok ganteng yang ku suka, jadi tentu saja aku tahu tanggal lahir mereka dan kugunakan sebagai pin ATM karena bingung mau pakai tanggal lahir siapa, pacar saja tidak punya.

Hahaha.

Untuk membuka pin yang terblokir, aku di haruskan membawa ATM, Buku Tabungan dan E-KTP sebagai bukti bahwa aku adalah pemilik resmi dari rekening itu.

Oh ya, biaya buka blokir pin adalah sebesar lima ribu rupiah yang ku bayarkan ke teller bank.

Indonesia Rakyat Bank sangat terkenal di area tempat tinggalku karena memang mereka adalah bank yang terdekat di area pedesaan. Sedangkan bank lainnya berada agak jauh dari desa dan lebih banyak ada di kecamatan atau kabupaten daerahku saja, belum masuk ke desa-desa. Hal itu membuat IRB menjadi pilihan banyak orang untuk menabung atau mengambil uang bagi para orang tua yang menerima kiriman dari anak-anak mereka yang bekerja.

Tiga bulan kemudian, aku membuka rekening baru, kali ini adalah bank AC atau Asia Central Bank. Alasanku membuka rekening baru adalah fitur dan pelayanan dari bank swasta ini lebih mudahkan urusanku terutama untuk pembayaran non-tunai karena aku adalah ‘bakul’ online.

Aplikasi ‘Mobil Banking’ atau M-Banking ACB juga kurasakan lebih juara di bandingkan IRB.

Bisa di katakan, aku lebih menyukai ACB daripada IRB, meskipun, potongan setiap bulannya 3 kali lipat dari IRB yaitu 15 ribu setiap bulannya. Aku jadi berpikir untuk menghilangkan salah satu akun dan Membunuh Rekening Bank Sendiri.

Bank juga identik dengan ‘bunga’ yang selalu di sebut ‘riba’.

Nah bunga bank itu sebenarnya sangat kecil sekali di bandingkan dengan biaya pemotongan admin setiap bulannya.

Untuk mendapatkan bunga juga seorang nasabah harus mempunyai sekian nominal dalam rekeningnya.

Misalnya, seorang nasabah mempunyai saldo sekitar satu juta di dalam rekeningnya, pemotongan biaya admin perbulan adalah 15 ribu rupiah dan bunga nya tidak lebih dari 300 rupiah.

Menyadari hal itu, aku mencoba untuk menjaga saldoku di bawah rata-rata agar tidak perlu mendapatkan bunga.

Kalau biaya admin tiap bulannya sih, karena aku sudah memakai jasa bank itu, jadi aku perlu membayarnya.

Tapi dalam hatiku, aku ingin sekali pemotongan biaya admin per bulan bisa lebih kecil lagi.

Xixixi.

Karena sudah suka dan nyaman dengan yang baru, aku jadi melupakan yang lama.

Hmm, memang siklusnya selalu begitu ya?

Ada yang baru, lalu sama yang lama jadi lupa.

Tapi memang benar, M-Banking ACB sangat mudah untuk mengirim uang, mengisi saldo GoPay, membayar tagihan di marketplace seperti Tokopedia dan lainnya membuatku makin nyaman bersama ACB.

Lalu beberapa waktu lalu tiba-tiba aku teringat dengan rekening pertamaku.

Aku mengecek history transaksi dan tentu saja sisa saldo disana karena aku memang sudah lama tidak mengecek bahkan tidak pernah lagi mengisinya.

Aku kaget sekali karena sedikit uangku lenyap tanpa ku memakainya. Meskipun aku sadar dengan biaya admin bulanan, tapi ada sedikit kejanggalan. Aku bingung harus bertanya pada siapa terlebih aku juga baru saja punya ATM, jadi masih ‘noob’ tentang hal yang berhubungan dengan bank.

Tapi dengan makin berkembangnya jaman dan kemudahan mencari informasi, tidak lama kemudian aku mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Semua itu karena rasa kepo ku dan tentu saja atas bantuan Internet.

Terima kasih Internet! khususnya, mbah ‘Google’ dan seorang blogger yang telah menulis beberapa penjelasan di artikelnya.

Aku membaca beberapa artikel tentang kejanggalan Indonesia Rakyat Bank ini, bagaimana pemotongan uang yang mereka lakukan, biaya-biaya dan juga denda yang di bebankan. Memang sih mungkin kita akan menganggap biaya-biaya maupun denda dan pemotongan itu sedikit dan tidak berarti apa-apa jika kita adalah orang kaya raya yang memiliki banyak uang bahkan sampai tidak bisa terhitung jumlahnya.

Tapi, jika semua orang berpikir sama, coba kali kan saja dengan ratusan, ribuan bahkan jutaan nasabah bank itu yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia.

Berapa banyak rupiah yang akan mereka dapatkan dari pemotongan recehan pada setiap nasabahnya?

Khususnya bagi mereka-mereka yang masih tinggal di desa dan belum begitu ‘melek teknologi’ istilahnya, atau cuek saja karena itu adalah satu-satunya bank yang terdekat dari  rumah mereka atau bisa jadi ada alasan lainnya yang membuat mereka tidak begitu teliti atau bahkan tidak begitu peduli kemana uang mereka pergi.

Namun tidak denganku, aku cukup peduli dengan uangku, karena aku sadar untuk mendapatkan uang, aku harus membanting tulang.

Emm, maksudku, aku harus bekerja jika ingin mendapatkan uang karena uang yang kuinginkan tidak jatuh dari langit seperti air hujan.

Setelah ku baca banyak artikel, ternyata cukup banyak juga orang-orang yang membagikan pengalaman mereka tentang kejanggalan yang terjadi dengan bank IR.

Mereka lalu berhenti menjadi nasabah bank IR dan memilih bank lainnya.

Aku lalu mencari cara agar aku bisa lepas atau berhenti menjadi nasabah bank ini.

Aku tidak ingin lah menjadi salah satu orang yang turut memperkaya orang-orang yang ada di bank ini, apalagi jika uangnya malah di korupsi.

Setelah ku baca beberapa artikel lainnya, ada dua cara untuk mematikan atau membunuh rekening bank ;

1. Datang ke salah satu cabang Indonesia Rakyat Bank dengan membawa kartu ATM, Buku Tabungan, E-KTP dan uang tunai sebesar 50 ribu untuk biaya menon-aktifkan rekening.

Kita harus mengembalikan buku tabungan dan ATM bank itu ke cabang yang kita datangi lalu petugas akan mematikan rekening kita.

Perlu waktu 6 bulan sampai rekening kita benar-benar mati atau terhapus dan tidak aktif lagi.

Sebelum memutuskan untuk mematikan rekening, jangan lupa untuk menarik semua sisa saldo yang ada di rekening kita ya, atau jika tidak pun, petugas bank nanti akan membantu kita menarik uang yang masih tersisa.

2. Matikan atau bunuh rekening itu sendiri.

Disini lebih tepatnya mematikan rekening secara paksa.

Caranya adalah :

Tarik semua sisa saldo atau transfer uang kita ke rekening bank lainnya dan sisakan 50 ribu rupiah karena uang itu memang di tahan oleh pihak bank atau menjadi minimal saldo.

Setelah itu, simpan buku tabungan dan taruh kartu ATM di dompet sebagai hiasan.

Kemudian, lupakan dan jangan ingat-ingat lagi rekening yang telah kita campakkan tadi.

Anggap saja dia adalah mantan yang tak dapat kembali lagi.

Beres. Kita telah mematikan atau membunuh rekening kita sendiri dengan melakukan hal ini.

Jika datang ke kantor cabang bank kita akan membayar tunai 50 ribu, membunuh rekening sendiri juga perlu 50 ribu, bedanya kita tidak perlu capek-capek datang ke bank dan mengembalikan kartu ATM serta buku tabungan.

Kita bisa menyimpan keduanya sebagai hiasan dan kenang-kenangan.

Sisa saldo 50 ribu yang ada dalam rekening kita akan habis dengan sendirinya setelah enam bulan karena untuk bayar biaya admin setiap bulan. Setelah saldo habis, rekening akan mati sendiri.

Jadi intinya kita membiarkannya mati pelan-pelan.

Tidakkah ini sama saja dengan pembunuhan?

Wkwkwk Membunuh Rekening Bank Sendiri.

Tapi bedanya, jika ke bank, kita harus mengembalikan buku tabungan dan ATM, kalau mematikan paksa, kita masih bisa menyimpan keduanya.

Hahaha.

Ohya satu lagi, setelah mengenal “Reksa Dana”,  aku tidak lagi menyimpan atau menabung uangku di bank. Bahkan Asia Central Bank juga aku gunakan untuk keperluan berbagai pembayaran atau untuk penarikan uang kebutuhan bulanan saja.

Apalagi untuk membayar beberapa keperluan seperti taksi atau ojek online, aku biasa memakai GoPay.

Saat ini pembayaran non-tunai juga sudah mulai di kenalkan ke masyarakat luas seperti contohnya ada, GoPay, OVO, DANA, i-Saku, Shopeepay dan yang lainnya.

Aku lebih memilih menyimpan uangku di Reksa Dana karena tidak ada potongan bulanan maupun pajak!

Jika kalian ingin memarkirkan uang, saranku mending pilih Reksa Dana saja dan segera Membunuh Rekening Bank Sendiri.

Uang kita juga berpotensi akan bertambah loh, apalagi saat ini sudah ada banyak sekali “Reksa Dana Syari’ah” yang telah di setujui oleh MUI.

Jadi tidak usah ragu lagi.

Buat yang suka bilang uang lari ke osang-asing-aseng, yukk saatnya kita mulai sadar dan jaga uang kita sendiri.

Kita bisa mulai membeli saham juga setelah awalnya kita coba-coba di Reksa Dana.

Kalau bukan kita sendiri yang peduli? Lalu siapa lagi?

Nah, harapanku untuk bank yang memiliki nama Indonesia dan juga Rakyat itu, kedepannya akan benar-benar membantu memudahkan rakyat dan seluruh warga negara Indonesia untuk dapat menabung dan bertransaksi dengan lebih baik lagi hingga ke pelosok negeri.

Tidak usah ada bunga tidak apa-apa, yang penting turunkan dan buat biaya admin atau potongan bulanan sekecil mungkin yaa!

Hohoho.

_________

Ditulis oleh : #Aandzee zeeyeng