Mengharap Surga

Mengharap Surga

“Saya terima nikahnya dengan mas kawin dibayar tunai.”

Hari ini aku mendengar suamiku mengucap akad lagi, sama persis seperti yang kudengar dulu saat dia mengucapkan janji suci padaku.

“Bagaimana saksi? Sah?”

“Sah!”

Suara gemuruh para tamu hadirin mengucapkan hamdalah atas sahnya pernikahan suamiku dengan Marisa, maduku. Sementara Tini, sahabatku tak henti memeluk tubuh ini dengan erat.

Bahkan saat sesi foto bersama, aku masih menyunggingkan senyum termanisku.
Mas Toni berdiri dengan gagah ditengah, disamping kirinya ada Marisa dan aku berdiri disebelah kanannya.

Aku tidak tahu apa yang akan dipikirkan orang di luar sana, yang pasti semua kulakukan hanya untuk mengharap surga.

Setelah hampir memasuki usia 3 tahun pernikahan dengan Mas Toni, kami belum juga mendapat kabar bahagia maupun tiket garis dua. Hal itu menjadi salah satu alasanku untuk merelakan diriku dimadu.

Orang tua Mas Toni sangat menginginkan seorang cucu dan aku sampai saat ini saja setiap bulan masih rutin kedatangan tamu.

Marisa adalah gadis muda yang selain cantik, dia juga baik. Aku percaya dia akan memberikan keturunan terbaik untuk keluarga Mas Toni nantinya.


“Mbak Mila tidur di lantai atas ya, aku di kamar bawah,” ucap Marisa ramah.

“Iya Ris,” jawabku lirih.

Sesuai kesepakatan, kini aku akan menempati kamar tamu di lantai atas sementara Marisa mendapatkan kamar utama yang berada di lantai bawah.
Malam ini suamiku akan menghabiskan waktu dengan istri barunya.

Kedepannya, dalam satu minggu Mas Toni akan bergantian tidur di kamar kami.
Senin, Selasa dan Rabu suamiku akan tidur bersamaku dan hari Kamis, Jum’at, Sabtu, dirinya akan menghabiskan malam bersama Marisa di kamar utama.

Untuk hari Minggu, bebas terserah Mas Toni saja mau tidur di kamar ini atau di kamar istri mudanya.

Kuambil gawaiku dan membuka aplikasi berwarna hijau.
Ternyata Tini memposting dua foto pada WA story saat aku berada dalam pelukannya dan satu foto lagi dimana aku berdiri bertiga dengan Mas Toni dan Marisa.

“Sabar ya Mil.”

Caption dengan satu emot sedang menangis menyertai dua foto yang diunggah oleh sahabatku.

Aku tersenyum dan kembali mengulangi kata-kata yang telah kuucapkan tadi.

“Semua kulakukan hanya berharap surga-Nya”.

TIMIT.

Yuk Baca Koleksi Short Story aandzee lainnya disini

Originally posted 2020-06-22 12:13:06.