Satu Bulan versus Sepuluh Tahun

Satu Bulan versus Sepuluh Tahun

“Yank, aku telah menemukan wanita yang baik untukku dan terlanjur sayang sama dia. Aku mau menikah lagi dan kita harus cerai,” ucap suamiku saat kami berbincang sebelum tidur.

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

“Apa? cerai?” jawabku kaget karena tiba-tiba saja pria yang telah menikahiku selama hampir 10 tahun itu mengatakan hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

“Kamu udah nggak sama seperti dulu, Nurul, kamu berubah, sekarang tidak ada lagi topik menarik yang biasa kita bahas, setiap hari kamu selalu mengeluh dan bilang capek. Bahkan kebutuhan biologis kita sebagai suami istri seringkali terabaikan karena kamu selalu saja berkata lelah dan ingin tidur!”

“Aku benar-benar lelah, Mas, sedari pagi aku mengurus rumah dan anak-anak, semuanya seperti tidak ada habisnya ….”

“Apa aja sih yang kamu kerjakan di rumah? Setiap kali aku pulang dari kantor nyatanya rumah masih berantakan. Bukan hanya rumah saja yang selalu berantakan, penampilan kamu juga. Jauh, jauh dari dulu saat kita awal menikah!”

Tanpa aba-aba, butiran bening keluar dari kedua mataku dan langsung membanjiri pipi ini. Aku tidak pernah menyangka Mas Fahri akan tega mengatakan hal itu. Bagaimana dengan anak-anak kami, Fajar dan Nadia, jika benar perceraian sampai terjadi?

Namun Mas Fahri sudah sangat yakin dengan keputusannya, bahkan dia akan segera mengurus perceraian kami secepatnya.

“Baiklah, Mas, aku setuju, tapi dengan satu syarat,” ucapku sambil menahan sesak di dada dan mengusap airmata yang terus berjatuhan.

“Apapun itu, akan aku penuhi, Yank, asalkan aku bisa segera menikahi Yuli dan hidup bersamanya.”

“Tinggallah di rumah bersama anak-anak selama satu bulan penuh, setelah itu aku akan melepaskanmu.”

“Tapi aku tidak punya waktu, Yank, lagipula kamu mau kemana?” ucap Mas Fahri berusaha menawar.

“Aku telah bersama anak-anak selama ini, sekarang aku meminta kamu tinggal bersama mereka hanya satu bulan saja. Selama itu aku akan kembali kerumah Ibu.”

“Ok, tapi hanya satu bulan.”

Setelah Mas Fahri setuju dengan kesepakatan kami itu, aku pulang ke rumah Ibu. Sebenarnya aku tidak tega meninggalkan Fajar dan Nadia yang masih berusia 9 dan 7 tahun untuk pertama kalinya, karena memang selama ini aku sendirilah yang merawat mereka, tanpa bantuan siapa-siapa, bahkan Mas Fahri sendiri.

Sementara suamiku sedang tinggal di rumah bersama anak-anak, aku mendedikasikan seluruh waktu yang kumiliki hanya untuk diriku sendiri. Aku pergi ke salon, bertemu teman-temanku dan berolahraga secara teratur seperti yang ku lakukan dahulu sebelum Mas Fahri akhirnya menikahiku. Aku berhasil menurunkan berat badan dengan begitu cepat dan mendapatkan kembali berat badan serta tubuh idealku.

Aku juga kembali bekerja dimana 10 tahun yang lalu aku dipaksa untuk berhenti oleh Mas Fahri. Aku merasa menjadi manusia baru, menjadi diriku seutuhnya, Nurul seperti sepuluh tahun lalu saat belum dinikahi oleh Mas Fahri.

Setelah satu bulan berlalu, aku mengunjungi anak-anak. Ku lihat rumah sangat berantakan, anak-anak seperti tidak di urus dengan benar, dan Mas Fahri, dia tampak sangat berbeda. Begitu berbeda dari satu bulan lalu saat dia berkata ingin menceraikanku untuk Yuli, wanita baru yang sudah terlanjur dia sayangi itu.

“Aku minta maaf, Nurul, seharusnya aku tidak pernah berbuat seperti itu padamu, aku menyesal, aku sangat mencintaimu ….”

“Lalu, bagaimana dengan Yuli, kekasihmu?” jawabku enteng.

“Aku bahkan nggak punya waktu untuk sekedar menemuinya, pun dia sekalipun tidak mau membantuku atau sekedar menjaga Fajar dan Nadia, aku tidak butuh dia lagi. Aku hanya mencintaimu, Yank!” ucap Mas Fahri sambil matanya sedikit berkaca-kaca.

“Selama ini kamu nggak pernah memperhatikan pengorbananku untukmu dan anak-anak kita, Mas! Aku bersama mereka dari pagi, siang, malam, hingga pagi lagi selama bertahun-tahun agar kamu bisa mempunyai waktu lebih, waktu luang untuk beristirahat setelah seharian bekerja. Jika kamu sekali saja pernah membantuku, aku tentu akan tetap sama sepertiku yang dulu! Wanita yang kamu nikahi dulu!”

“Aku minta maaf, Yank, selama ini nggak menyadari itu semua, maafkan aku ….”

Sejak saat itu, kehidupan keluarga kami berubah, Mas Fahri kini mulai membantuku mengerjakan pekerjaan rumah dengan pembagian tugas yang telah kami sepakati bersama, begitupun dengan pengasuhan anak-anak.

“A happy family is not a fate or luck, it is a constant hard work of two loving people.”

Inspired dari video Wnews Video yang berjudul A sad story: I decided to leave my unattractive wife for a lover.

Satu Bulan versus Sepuluh Tahun memang tidak sama.