Sisi Positif dari Viralnya Film Tilik

Sisi Positif dari Viralnya Film Tilik

Ini film pendek yang bagus, bermutu. Mengajarkan nilai positif.

Ajaran-ajaran positifnya antara lain :

  1. Mencerminkan orang-orang masa kini yang hobi gibah, tapi digibahin ogah.
    Menonton Bu Tejo dengan asyiknya menggibah membuat kita yang nonton jadi sebel. Bagaimana tidak enaknya menjadi Dian?
    Digibahin yang banyak orang dengar begitu.

Sisi positif : Menahan diri untuk tidak menjadi Bu Tejo. Tidak pula menjadi Bu Tri yang mengerikan sebagai kompor mbleduk maupun Yu Sam yang labil, kadang lurus, tapi bisa juga terbawa arus.
Yu Ning yang selalu berpikir positif ternyata tidak selalu berada di pihak yang benar karena tidak tahu dengan pasti posisi Dian.

Sisi Positif dari Viralnya Film Tilik lainnya adalah :

  1. Pentingnya tabayyun, jangan mudah termakan hoaks atau berita bohong maupun kabar kabur yang belum tentu kebenaran dan kevalidannya.
    Menyaring informasi dari yang kita dapat di Facebook maupun internet, tidak ditelan mentah-mentah semua info itu.
  2. Ciri khas yang menggambarkan keguyuban, kekompakan.
    Budaya ’tilik’ (menjenguk) orang yang sakit adalah cerminan orang Indonesia yang selalu gotong royong, mereka dengan segala cara berusaha menjenguk Bu Lurah bahkan dengan naik truk dan sampai berhadapan dengan polisi.

Adegan polisi di keroyok emak-emak dalam film pendek ini menurut aku pribadi adalah sisi ‘joke’ atau candaan dalam film pada umumnya.
Kalau dalam dunia nyata, lihat polisi saja sudah takut sekali, apalagi kalau ditilang dan dimintai STNK sama SIMnya.

Akhirnya jalan tengahnnya damai saja.
Selalu ada lho oknum polisi yang mau disuap.
Aku menyaksikan dan merasakan sendiri tiga kali di tilang polisi dan bebas karena memberi uang damai.

  1. Memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin.
    Bagaimana tidak? Dalam akhir film, karena para Ibu-ibu tidak jadi menjenguk Bu Lurah sebab beliau masih berada di ruang ICU, maka Bu Tejo menyarankan supaya mereka pergi ke pasar besar saja karena sudah jauh-jauh sampai ke kota.

Mampir ke pasar, belanja dan sebagainya setelah melakukan perjalanan rombongan adalah hal yang lumrah terjadi.
Bahkan tidak hanya sehabis tilik orang sakit saja, tapi setelah pulang bayen (menengok bayi baru lahir), takziah, dan lainnya.

Mbak Rosalina Dwi Rahayu dalam postingannya yang berjudul FILM TILIK VIRAL ?? menulis :

“Wong ndeso nganggo acara shopping shopping opo yo nyambung ??”

Whhhaaaaat!? memangnya hanya orang kota saja yang boleh shopping meh?
Orang desa tidak boleh shopping gitu meh?
Why leh?

Mbak Rosalina, gadis cantik yang tinggal di Sragen meski bukan ndesso klotho, tapi bukan juga kota banget, ‘kan?
Apa masalahnya dengan orang ndeso yang pergi shopping coba?

Shopping atau belanja adalah hak semua orang tidak peduli mereka orang kota atau orang desa.
Apakah hanya karena kami orang desa maka tidak boleh shopping?
Are you kidding me!?

Wong ndeso shopping kok gak oleh.
Piye to?
Shopping iku bukane belonjo?
Yo bebas to sopo wae shopping se penting nganggo duite dewe.

  1. Ending yang tak terduga atau post twist dalam film pendek ini tentu saja membuat banyak orang heran dan tidak menyangka.
    Bagaimana sosok Dian yang sepanjang jalan diomongin, digibahin ternyata benar ada hubungan dengan om-om atau lelaki yang mungkin lebih cocok menjadi ayahnya.

Jika kita lebih jeli atau menonton film ini lebih dari satu kali, kita akan tahu kalau lelaki yang berada di mobil di akhir film adalah seorang lajang, jadi Dian bukan perebut suami orang.

Laki-laki itu adalah ayah Fikri dan sudah bukan suami Bu Lurah lagi.
Hubungan mereka berdua masih sembunyi-sembunyi juga menjadi pertanyaan tersendiri dalam film ini.

Kenapa Dian jalan sama lelaki yang jauh lebih tua darinya?
Dalam satu omongan, Bu Tejo sempat bilang kalau sejak kecil Dian sudah ditinggal oleh bapaknya.
Jadi ketika besar, mungkin Dian mencari pasangan seperti sosok seorang ayah.

Namun, bukan berarti kita bisa membenarkan semua gibahan Bu Tejo yang menjurus ke fakta, ya!
Tidak dibenarkan membicarakan orang lain apalagi itu semua belum tentu benar dan bisa menjadi fitnah.

Tentu saja kita sudah hafal jika fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan, lidah lebih tajam dari pedang.

Lagipula dalam banyak film, ending yang tidak tertebak dan membuat penontonnya terkejut adalah hal yang bagus.
Setelah selesai mononton masih dibicarakan sesuatu yang bersangkutan dengan film.

Namun, balik lagi sih ke setiap penonton bagaimana mereka menilai sebuah film.
Ada yang lihat sisi dan ajaran negatifnya saja, ada juga yang melihat dari sisi positif dan pesan yang disampaikan melalui film itu sendiri.

Oh ya, salut juga kepada semua pemeran dalam film, sutradara, penulis naskah dan semua kru yang terlibat di dalamnya.
Aku saranin untuk nonton BTS (Behind The Scene/cerita di balik layar) dari film Tilik ini juga ya!
Banyak film pendek bagus yang sayangnya jarang ditonton orang banyak padahal kualitas filmnya top tenan.

Satu lagi, kalau orang desa tidak boleh pergi shopping, belanja di toko online aku juga tidak apa-apa.

Temukan toko “Aandzee” di Tokopedia, Shopee, Bukalapak, dan Lazada. 💜


Luv, Aandzee, gadis desa yang tinggal di desa dan suka ke pasar untuk shopping.

Originally posted 2020-08-31 16:13:24.