aandzee.id – Tetangga Beli Kulkas Hati Terasa Panas

“Permisi, Mbak, apa benar ini rumahnya Bu Munaifa?”

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

“Bu Munaifa? Si Ipah kali. Sok-sokan jadi Ifa, hih. Bukan ini rumahnya. Tuh yang cat hijau. Kalau ini rumah saya, bagus kan. Ada kolam ikan dan banyak pot bunganya.”

“Hehe, iya, Mbak, bagus.”

“Heh! Jangan panggil saya Mbak! This is Jekarda. Call me Non!”

“Oh, iya, Non! Saya permisi dulu mau antar ini.”

“Apa itu? Si Ipah beli kulkas?!”

“Benar Mbak, eh, Non. Saya permisi dulu.”

*Ini nggak bisa dibiarkan.Beli kulkas is my dream! Not her!

Bisa-bisanya dia beli kulkas baru padahal kerjaannya di rumah aja. Jangan-jangan dia melakukan pesugihan. Aku harus memberitahu warga lain.

Haredang … haredang ….

“Harrrgghh … huh … herrggghhh!”

“Buk, ada apa sih pagi-pagi udah ngersulo aja. Malu kalau dilihat tetangga.”

“Hih, udah berapa kali tak bilangin panggil aku Mamim, Pip! Jangan ibak-ibuk ibak-ibuk terus.”

“Iya, Mamim.”

“Papip tahu, si Ipah, tetangga depan kita baru aja beli kulkas, Pip! Kulkas baru, my dream! Nggak mau tahu pokoknya hari ini juga Papip harus beliin Mamim kulkas yang lebih bagus dan lebih mahal dari punya si Ipah itu. Panas hati Mamim rasa, Pip! Panas!”

Kulkas baru dengkulmu, Mim! Kemarin aja kita udah nunggak bayar kontrakan, mau beli kulkas pakai daun ta?”

“Bukan urusan Mamim! Pokoknya kita nggak boleh tersaingi oleh si Ipah itu, Pip. Titik.”

“Ta-tapii, Mim!”

Tetangga Beli Kulkas Hati Terasa Panas

Tetangga Beli Kulkas Hati Terasa Panas

Post navigation


Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!