Ubah cara pandangmu maka Kau akan mengubah hidupmu

Ubah cara pandangmu maka Kau akan mengubah hidupmu ~ Zee sekarang lagi tenggelam sama buku “7 Habits of Highly Effective People”. Buku Psikologi dan pengembangan diri populer di dunia yang ditulis oleh Stephen Covey. Bahkan banyak tokoh besar di dunia yang merekomendasikan buku ini. Seperti Anthony Robins, Bill Clinton, Richard M. Devos, Jake Garn dan lain sebagainya.

Buku ini sebenarnya berfokus pada 7 kebiasaan yang perlu dibangun, namun di bab awalnya menekankan pentingnya untuk mengubah cara pandang terlebih dahulu. Karena ketika seseorang merubah cara pandang dia akan berubah cara berpikirnya, ketika seseorang berubah cara berpikirnya dia akan berubah tindak tanduknya, ketika tindak tanduknya berubah maka akan berubah kebiasaan sehari-harinya, dan ketika orang berubah kebiasaan sehari-harinya maka akan berubah karakternya. Itulah dasar dari buku tersebut.

Ambil contoh, pernah gak punya teman yang dulunya nakal kemudian hijrah menjadi pribadi yang religius?Di awal perubahannya, mereka pastinya telah terjadi perubahan cara pandang terhadap kehidupan, sadar akan kekuatan tuhan, kemudian berubah tindak tanduknya, Jadi aktif di kegiatan religi, rajin beribadah, rajin berbuat baik ke orang. Kebiasaannya pun mulai berubah. Dulu dia terkenal sebagai karakter anak yang nakal kemudian berubah menjadi karakter yang santun dan religius. Karakternya pun menjadi berubah. Dari merubah cara memandang sesuatu berubah menjadi perubahan karakter.

Itulah salahsatu kekuatan perubahan cara pandang. Ubah cara pandangmu maka akan kau akan mengubah hidupmu. Dan masih banyak lagi contoh kekuatan perubahan paradigma lainnya. Zee akan berusaha menjelaskan satu persatu..

Sebelum membahas lebih jauh, yuk lihat gambar dibawah ini…

Ubah cara pandangmu maka Kau akan mengubah hidupmu
Point of view

Dalam suatu kelas, sang guru menunjukkan gambar ini di layar. Gurunya pun bertanya kepada muridnya. “Anak-anak gambar apa ini?” Sebagian murid menjawab. “Itu gambar perempuan muda pak, kisaran umur 20 tahunan” namun sebagian murid lainnya menjawab berbeda “Itu bukan gambar perempuan muda, itu gambar nenek-nenek umur 60-70 tahun an!” dan kelas pun mendadak menjadi ricuh dan ramai.

Guru itu pun tersenyum. “Siapa yang melihat gambar perempuan muda di gambar itu?” Setengah di kelas itu pun mengangkat tangan.

“Nah sekarang coba kalian berpasangan dengan teman yang berbeda pandangannya dan jelaskan bagaimana kalian melihat gambar itu”

Masing-masing murid di kelas itu pun saling menjelaskan ke teman lainnya. “Lihat, garis dibawah ini adalah kalungnya, lingkaran ini adalah telinganya, ini adalah hidung kecilnya, perempuan muda ini sedang menoleh di belakang”

Murid yang lain pun menjelaskan sebaliknya, “Ini bukan kalungnya, garis ini adalah mulutnya, lingkaran ini adalah matanya, dan lekukan garis ini adalah hidung besarnya, ini adalah gambar wanita berumur 60 tahunan”

Setelah masing-masing bisa melihat sudut pandang berbeda dari gambar itu, mereka pun mulai mengerti. “Ohhh iya bener juga, ini bisa terlihat sebagai wanita berumur 60 tahun an”

Yang lainnya pun juga bisa melihat sosok perempuan muda sedang menoleh dibelakang. “Ahh bener juga, ini bisa terlihat seperti perempuan muda”

Kelas yang tadinya ricuh karena saling mempertahankan pendapat mereka berubah menjadi kelas penuh gelak tawa. Tidak ada yang salah dari mereka, mereka semua benar. Mereka mulai faham setelah melihat dari sudut pandang yang sama

Itu sebenarnya yang terjadi dari semua pertengkaran yang ada. Baik pertengkaran antar teman, pertengkaran dengan pasangan, pertengkaran dengan orang tua. Karena satu sama lain melihat dari sudut pandang yang berbeda, dan satu sama lain saling bersikeras mempertahankan perbedaan pandangan mereka

Sadarkah kita ketika melihat dari sudut pandang yang berbeda dan ikut melihat dari sudut pandang tersebut, kita juga bisa merubah hubungan kita dengan orang lain. Itulah kekuatan perubahan paradigma lainnya. Ubah cara pandangmu maka akan kau akan mengubah hidupmu.

Lalu bagaimana saat kita menghadapi permasalahan? Apapun permasalahannya baik yang berhubungan dengan orang lain ataupun permasalahan pribadimu. Sadarkah jika….

“Cara kita melihat masalah merupakan permasalahan itu sendiri”

Pernah gak kamu mengalami permasalahan seperti dibawah ini..

“Ahh seandaianya aku punya anggota tim yang gak males2an, yang punya keinginan belajar yang tinggi, mungkin bisnisku akan menjadi lebih besar dengan cepat. Aku sudah belajar ini itu, belajar bikin SOP dan lain sebagainya tapi mereka sulit mengerti apa yang aku ajarkan”

Apakah ada kemungkinan caramu melihat orang yang bekerja untukmu adalah permasalahan sebenarnya?

Mungkin mereka merasa diperlakukan seperti obyek mekanis, tidak humanis, disuruh-disuruh tanpa memahami kendala mereka. Apakah benar kamu memperlakukan mereka untuk kebaikan mereka juga?

Atau kamu mengajarkan mereka dengan bahasa yang sulit dimengerti? Tanpa tau dimana kemampuan dasar mereka sehingga melewati pelajaran dasar untuk mereka dan langsung mengajarkan pelajaran expert.

Ya bisa jadi caramu memandang masalah adalah permasalahan itu sendiri. Mari lihat case lainnya…

” Seandainya aku punya pasangan yang bisa nurut sama saya, mungkin hubungan kita gk akan menjadi serumit ini, tiap hari berantem terus, saya sampe capek menghadapinya. Konsultasi ke sana sini namun dia selalu menganggap nasehatku tu sebagai gangguan saja “

Mungkinkah pasangan itu bukanlah masalah yang sebenarnya?Mungkin Kamu yang mendorong kelemahan pasanganmu sehingga pasanganmu memperlakukan mu seperti itu. Tidak nyaman atas perlakuanmu dan ucapanmu

Apakah kamu dan pasanganmu sudah melihat makna relationship dengan sudut pandang yang sama? Sudah melihat artinya mencintai dan menyayangi dengan sudut pandang yang sama juga? Pernahkah kamu berusaha melihat dari sudut pandang pasanganmu?

Ya mungkin caramu memandang masalah adalah masalah itu sendiri. Yuk kita lihat kasus lainnya….

” Aku merasa dikejar oleh waktu terus menerus, pekerjaanku seperti tidak ada habisnya, aku gak bisa menikmati hidupku, Jika aku tidak bisa menyelesaikan dengan cepat maka pekerjaanku makin menumpuk. Aku sudah belajar manajamen waktu dan sebagainya. Ya itu sometimes berhasil namun tetap perasaan stress karena kerjaan ini gak pernah hilang. Saya tetep merasa terus dikejar oleh pekerjaan”

Bagaimana kamu melihat pekerjaanmu itu sendiri? Apakah kamu pernah berusaha mencintai pekerjaanmu? Apakah pernah kamu mengerjakan dengan riang gembira?

Atau mungkin caramu melihat waktu itu sendiri masalahnya, Pernah tau makna relativitas waktu nya einstein? Bahwa waktu itu sama saja namun caramu melihat waktu itulah yang membuatnya berbeda.

Ya mungkin selama ini caramu melihat masalah adalah masalah itu sendiri. Dan banyak lagi contoh lainnya…

Itulah yang berusaha Stephen Covey jelaskan dalam bukunya, sebenarnya inti dari semua ini adalah tentang perubahan paradigma. Cara pandang itu ibarat adalah sebuah peta. Kita ingin menuju ke Jakarta dari Surabaya namun menggunakan peta untuk perjalanan menuju ke Bali. Tidak akan pernah sampai ke tujuan.

Saat kita sudah menggunakan peta yang tepat, dengan cara pandang yang benar, makan tujuan kita akan segera tercapai. Ubah cara pandangmu maka Kau akan mengubah hidupmu

Baca Juga : Yuk Belajar tentang Business Model Canvas