Wanita Malam & Tukang Sapu Jalanan

Wanita Malam & Tukang Sapu Jalanan

Ketika kebanyakan orang tengah terlelap dalam tidur dan hangatnya selimut yang menutupi tubuh mereka, beberapa orang di luaran sana ternyata masih terjaga dan bahkan sedang bekerja untuk mencukupi kehidupan keluarganya.

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

Seorang bapak berseragam oranye yang tidak lagi muda dengan jenggot yang telah memutih di dagunya sedang menyapu di jalanan ibukota yang cukup sepi. Sesekali ada mobil yang lewat dengan suara khas kendaran roda empat.


*ssssrrrrrttttt…. suara mobil berhenti dengan rem yang di injak cukup kasar.
Aku diusir keluar dari mobil mewah itu.

“Mana bayaran gue! Lu jangan maunya gratisan doang dong! Gue nggak peduli meskipun elu laki gue, bayar tetep bayar!” teriakku pada mas Anton, pria yang merupakan pelanggan utamaku.

“Tuh ambil!” beberapa lembar uang berwarna biru di lemparkan dari jendela mobil ke jalanan sepi ini.

Aku kesal dan geram dengan perlakuan mas Anton malam ini. Dia meninggalkanku begitu saja di jalanan. Ingin rasanya aku mengamuk!
Kulemparkan sepatu hak tinggi ku ke jalanan sambil terus mengumpat saat mobil mas Anton perlahan menghilang dari pandangan.

“Arrggghhh… Sial… siaaalll….!!”

Kupunguti lembaran uang kertas itu sambil terus mengumpat bahwa semua pria itu sama saja. Mereka hanya ingin gratisan!
Aku berjalan ke pinggir trotoar dan duduk disana.
Ku ambil handphone mewahku dan mencoba menghubungi seseorang. Sialnya, telponku tidak dijawab. Benar-benar menyebalkan!

Aku membuka tas dan mengambil sebatang rokok, meskipun sudah kucari-cari, tak ku temukan korek api yang kubutuhkan! Sial.

Sementara itu, bapak yang berseragam oranye mengambil sebuah sepatu yang kulemparkan tadi dan membawanya ke hadapanku. Dia juga meminjami korek api miliknya untuk ku pakai.

“Ini non, korek non.”

Aku memandangnya sekilas dan mengambil korek yang ia tawarkan. Kunyalakan rokok dan ku hisap dengan nikmat.

“Mau di stopin taksi, non?” tanya bapak itu ramah.

“Nggak, pak, saya masih mau disini. Makasih.” Kukembalikan korek itu padanya.

Bapak berseragam oranye itu masih berdiri di dekatku, di tangannya, ia menggenggam sapu lidi panjang.

“Kerjanya kenapa nggak siang aja, pak?” tanyaku pada si bapak tukang sapu. Ia pun akhirnya duduk di trotoar juga dengan jarak lebih dari satu meter dari tempat dudukku.

“E….ee… enakan jam segini, non, nyapunya. Sepi.”

“Kota ini tuh nggak pernah sepi, pak, paling hati orang-orangnya aja yang kesepian.”

“Emang non merasa sepi?”

Aku menggelengkan kepala dan tersenyum kecut.

“Teman saya banyak, pak. Tapi ya, gitu… gonta-ganti. Lebih seru. Kalau bapak?” Masih dengan senyum kecutku, aku terus menghisap rokok dan menghembuskan asapnya ke udara.

“Saya… saya bertiga sama anak dan istri.”

Bapak tukang sapu juga mengambil sebatang rokok dari kantong celananya dan menyalakan korek api lalu menikmati barang yang membuat candu itu.

“Udah gede anaknya?” tanyaku penasaran.

“Sepuluh tahun. Saya terlambat nikah, non, tapi ya saya masih bersyukur di kasih anak.”

“Saya juga kayaknya bakalan telat nikah…”

“Kenapa?”

“Sibuk sama kerja keras saya.”

“Buat keluarga di kampung?”

“Ngapain mikirin saudara, pak? Saudara-saudara saya aja nggak pernah mikirin saya kok. Yang penting itu sekarang cari uang, cari duit biar kaya. Iya nggak pak?” aku bangga dengan prinsip yang selalu ku pegang.

“Emang non capek-capek kerja buat duit?”

“Saya kerja tu buat nyari seneng, pak. Biar hidup saya senang.” Kujawab pertanyaan itu dengan senyum manisku sambil terus menghisap rokok di tanganku yang semakin mengecil karna terus terbakar.

“Dan… eem… non senang?”

Pertanyaan bapak tukang sapu itu bagaikan petir yang menyambarku kencang. Tidak pernah ku jumpai bahkan tidak pernah sekalipun kudengar ada orang yang bertanya padaku, ‘Apakah aku senang?’ ‘Apa aku bahagia?’ tidak. Orang-orang akan bertanya ‘Apa prestasimu?’ ‘Harta apa saja yang kamu miliki?’ ‘Sudah punya anak berapa?’ dan sebagainya. Tapi tidak pernah ada yang bertanya, ‘Apa kau bahagia?!’

Aku menahan sesuatu yang tak kutahu dan gemuruh rasa yang tidak karuan di dalam relung hatiku.
Kenapa tiba-tiba ada orang asing yang bertanya apakah aku bahagia dengan semua uang yang kumiliki, teman-teman yang kupunyai dan semua yang ku anggap kerja keras dengan menjual diri. Aku terdiam tak bisa berucap apa-apa. Kumatikan rokok dan ku buang puntungnya begitu saja.

*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung… suara HP ku berbunyi, aku berdiri dari dudukku dan mengangkat telepon dari orang yang barusan tidak menjawab panggilanku.

“Halo, ahh biasa, ribut tadi tu, minta diskon segala, ngomong sih mau ngawinin gue, halah palingan minta gratisan. Janjiin doang pengen ngawinin. Bilang cinta… cihh, dirumah juga paling takut sama bininya. Gue di jalan Surabaya, jemput ya. Oke, bye.”

Bapak berseragam oranye itu masih melanjutkan pekerjaan menyapunya. Aku memperhatikan si bapak dan memberanikan diri untuk bertanya;

“Ngomong-ngomong, gaji cukup tuh pak buat menghidupi anak sama istri?”

“Yah, kalau di bilang cukup, ya nggak cukup lah non, apalagi kalau dibanding dengan uang yang non punya itu, tapi saya ya bersyukur aja lah…”

“Emang kalau bapak punya uang banyak, mau diapain uangnya?”

Si bapak menghentikan pekerjaan menyapunya dan kembali duduk di trotoar yang tadi ia duduki kemudian menjawab pertanyaanku,

“Kalau saya punya uang sebanyak yang non punya itu, pasti saya akan ajak anak dan istri saya untuk makan enak. Makan ayam kentaki, bukan ayam kentaki yang dijual di gerobak itu. Bukan.”

“Saya punya temen, setahun yang lalu, dia nikah, cuman ya sialnya, pacarnya itu selain pemalas, dia juga pemabok dan penjudi. Sampai akhirnya, tidak lama ini, dia kembali menjual diri lagi. Ya, saya mikir aja, jadi istri rugi juga ya, melebihi jadi pembantu. Cuman bedanya, kalau udah nikah, pelanggannya cuma satu.” Aku menarik satu batang rokok lagi, ku nyalakan dan ku hisap pelan sebelum kulanjutkan opiniku tentang untung rugi jika menjadi seorang istri.

“Jadi istri orang itu nggak enak, pak. Kerjaannya banyak, bayarannya nggak ada.”

“Susah, non,” bapak di sebelahku mulai memberikan opininya.

“Susah kalau rumah tangga harus di lihat dari untung ruginya. Susah. Hidup saya ini, kalau ngikutin kata nggak enak, semuanya nggak enak. Nggak enak jadi tukang sapu jalanan, gajinya kecil, nggak cukup buat makan. Nggak enak tinggal di pinggir kali, nyamuknya banyak. Belum lagi nanti tiba-tiba di gusur. Makanya, karna hidup saya terus menerus hidup nggak enak, maka saya jadi terus berusaha untuk hidup enak. Dengan bersyukur dan bersyukur.”

“Emang bapak yakin bisa hidup enak?”

“Kalau hidup enak seperti yang non katakan tadi, dengan punya banyak uang dan sebagainya, sampai mati pun nggak bakalan saya rasain, non. Nggak bakalan. Tapi, hidup kan nggak melulu tentang uang, non? Keluarga penting. Anak, anak juga penting. Nggak melulu uang. Dan jika istri saya pemikirannya sama dengan apa yang non pikirkan tentang uang dan hidup enak, maaf ya non, maaf… pasti sudah lama saya di tinggalkan oleh istri saya. Pasti.”

Jawaban bapak tukang sapu jalanan yang bahkan tidak ku ketahui namanya ini benar-benar menusuk sanubariku. Aku seperti ditampar sekeras-kerasnya mendengar apa yang bapak itu ucapkan. Tak terasa, ada butiran airmata yang menetes di pipiku. Kuhisap rokok yang ada ditanganku dengan gemetar. Sambil ku usap airmataku yang hampir jatuh, aku bilang pada si bapak,

“Saya hanya mau berjuang untuk laki-laki yang benar-benar peduli sama saya, pak. Yang nggak hanya butuh badan saya aja.”

Aku lalu terdiam, ingin sekali rasanya aku menangis dan berteriak dengan keras atas apa yang bergejolak di hati. Sementara bapak berseragam oranye itu memandang ke depan dengan tatapan kosong.

“Oh, itu jemputan saya datang.”

Tepat saat adzan shubuh berkumandang, kulihat Fajar datang. Fajar, sahabatku yang selalu ada untukku dan terus meyakinkanku untuk meninggalkan dunia kelam ini, dia pernah mengaku akan menerimaku apa adanya, tapi dia berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari diriku.

Aku bergegas berdiri dan membonceng motor Fajar, aku berpamitan pada bapak itu dengan memberikan senyumanku dan mengajak Fajar segera pergi dari sini. Bapak tukang sapu hanya memandangku berlalu menjauh. Namun sebelum itu, aku meletakkan semua lembaran uang kertas biru yang ada di tasku tepat di sebelah tempat aku duduk tadi.

*Sebenarnya aku tidak pernah merasakan pagi, tapi pagi ini membuatku ingin merasakan yang namanya pagi. Makasih, ya, pak.

End.


*NB : Ini bukan cerita asli karangan aku, yaa. Kemarin, mager banget mau ngapa-ngapain, lalu aku buka YouTube dan menonton beberapa video dari trailer KKN Desa Penari, video investigasi pesugihan rumah makan, terus nonton beberapa film pendek tentang cerita misteri pendakian sampai akhirnya aku klik video yang ada di rekomendasi yutub dan aku menemukan film pendek ini yang berjudul “Before Mornig Comes”, yang menjadi inspirasi dari tulisan Wanita Malam & Tukang Sapu Jalanan kali ini. Beberapa kalimat dari video tidak aku tulis karna kurasa kurang tepat untuk dibaca. Selengkapnya, tonton video nya disini yah… >> https://youtu.be/Gj0V1ezhgqs

IndonesiaShortFilmDrama : Wanita Malam & Tukang Sapu Jalanan. Judul asli adalah Before Morning Comes